Salah satu peserta rencana aksi Sekolah Iklim, Sumayyah Muthmainnah Izzatunnisa’ dari kelas X.6, mengatakan bahwa inovasi ini berangkat dari keinginan untuk mengubah limbah di sekitar sekolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna. Menurutnya, pemanfaatan kapuk randu dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan media tanam yang sulit terurai.
“Kami mencoba memanfaatkan limbah kapuk yang ada di lingkungan sekolah karena selama ini hanya jatuh dan belum digunakan. Dengan menjadikannya media tanam kangkung, kami ingin menyelesaikan dua persoalan sekaligus, yaitu memanfaatkan limbah kapuk dan mengurangi penggunaan rockwool yang sulit terurai, sementara kapuk merupakan bahan organik yang lebih mudah terurai,” ungkap Sumayyah.
Ia berharap, program tersebut dapat terus berjalan hingga tanaman kangkung berhasil dipanen, bahkan dikembangkan untuk penanaman berikutnya.
Baca Juga:Jasa Raharja Jamin Seluruh Korban Kecelakaan Hiace vs Truk di Tol Ngawi–Kertosono KM 616 AJasa Raharja Jamin Seluruh Korban Kecelakaan Hiace vs Truk di Tol Ngawi–Kertosono KM 616 A
“Metode serupa juga berpotensi diterapkan di rumah dengan menggunakan jenis tanaman lain, seperti bayam, selada, seledri, dan sebagainya sehingga manfaat kegiatan tidak berhenti di lingkungan sekolah saja,”pungkasnya.(nul)
