Integrasikan Nilai Agama dan Alam, MI Walisongo Pekalongan Terapkan Edukasi Ekoteologi Daur Ulang

Integrasikan Nilai Agama dan Alam, MI Walisongo Pekalongan Terapkan Edukasi Ekoteologi Daur Ulang
MALEKHA. KBM - Kegiatan belajar mengajar di luar kelas dalam memahami Ekoteologi.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID — Madrasah Ibtidaiyah (MI) Walisongo Kebonrowopucang, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis proyek yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan pelestarian lingkungan melalui program edukasi ekoteologi.

Program ini mengajak para murid untuk mempraktikkan langsung kegiatan bercocok tanam di lingkungan madrasah dengan memanfaatkan limbah galon air mineral bekas sebagai media pot tanaman yang kreatif.

Kepala MI Walisongo Kebonrowopucang, Ahmad Muqorobin, S.Pd.I., menjelaskan bahwa esensi utama dari program ini adalah menempa karakter kedisiplinan, ketekunan, serta rasa tanggung jawab pada diri siswa sejak usia dini.

Baca Juga:Polisi Usut Kejadian Bocah 11 Tahun Alami Luka Saat Bermain di Area Pasar Malam Kaliwungu KendalPemkab Batang Siapkan Rp 3 Miliar di 2027 untuk Perpesona Pedestrian Jalan Dr Sutomo

“Setiap murid harus mengikuti jadwal perawatan tanaman, mulai dari menyiram, memupuk, hingga membersihkan gulma. Dengan demikian, murid belajar memahami bahwa merawat tanaman membutuhkan perhatian dan konsistensi,” ucap Ahmad Muqorobin saat memberikan keterangan di lingkungan madrasah.

Guna memikat antusiasme anak-anak, limbah galon bekas dihias dan dicat dengan aneka pola menarik seperti bunga dan replika satwa, sehingga aktivitas agrikultur menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Sementara itu, guru pendamping ekoteologi, Istiqomah, S.Pd.I., menambahkan bahwa proyek ini sekaligus menjadi sarana penanaman etika spiritual hubungan manusia dengan alam (hablum minal ‘alam).

“Melalui ekoteologi, murid dapat belajar bahwa menjaga tanaman merupakan bentuk tanggung jawab kepada Tuhan yang telah memberikan nikmat berupa udara sehat dan makanan dari tumbuh-tumbuhan. Mereka juga belajar membangun hubungan yang harmonis dengan alam atau hablum minal ‘alam,” ungkap Istiqomah.

Istiqomah menegaskan, metode pembelajaran berbasis proyek ini menjembatani teori kelas dengan aksi nyata di lapangan agar siswa bertindak sebagai agen perubahan lingkungan yang peduli kelestarian bumi.

“Melalui pembelajaran berbasis proyek tersebut, nilai-nilai ekoteologi diwujudkan dalam tindakan nyata. Murid tidak sekadar memahami pentingnya menjaga lingkungan melalui penjelasan guru, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung melalui kegiatan menanam, menyiram, dan merawat tanaman secara rutin,” tambahnya.

Melalui pendekatan teologis yang bersumber dari ajaran Islam dan nilai kepedulian ekologis, MI Walisongo Kebonrowopucang berkomitmen mencetak generasi madrasah yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kesadaran moral spiritual dalam menjaga kelestarian alam semesta. (mal)

0 Komentar