Banjir Tak Kunjung Surut, Begini Cara Korban Banjir di Kabupaten Pekalongan Tetap Beraktivitas

Banjir Tak Kunjung Surut, Begini Cara Korban Banjir di Kabupaten Pekalongan Tetap Beraktivitas
Tak mau menyerah dengan banjir, warga Desa Mulyorejo Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan tetap beraktivitas di tengah kepungan banjir. Salah satunya membuat rakit ala kadarnya untuk mengangkut bahan-bahan produksi batik. (Hadi Waluyo).
0 Komentar

KAJEN,Radarpekalongan.id – Banjir di Kabupaten Pekalongan tak kunjung surut. Hampir dua pekan ini aktivitas warga di sejumlah desa di Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, terganggu akibat banjir yang belum juga surut. Meski demikian, korban banjir di Kabupaten Pekalongan tetap berjuang untuk bisa bekerja di tengah kepungan banjir. Mereka tak mau menyerah dengan keadaan. Salah satu upayanya warga gunakan sampan atau rakit ala kadarnya untuk memudahkan pekerjaan dan kegiatan lainnya.

Banjir di Kabupaten Pekalongan terjadi sejak hari pertama tahun 2023 lalu. Kondisi ini membuat aktivitas warga di Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan yang mayoritas sebagai pengrajin batik dan konveksi terganggu. Untuk memudahkan pekerjaan mereka, warga membuat rakit atau sampan dengan alat seadanya, seperti bekas galon air mineral, kayu, dan drum bekas.

“Kegiatan harian kami sangat terganggu, soalnya motor atau mobil tidak bisa masuk karena air banjir masih tinggi kisaran 40 hingga 75 sentimeter. Jadi kami buat alat seadanya seperti rakit untuk angkut batik atau barang dan orang juga,” jelas Nurcahyo, warga Desa Tegaldowo, Senin (9/1/2023).

Baca Juga:Hindari Dampak Buruk Internet dan Gadget, Coba Terapkan 7 Tips Mendidik Anak di Era Digital IniJangan Terlalu Manjakan Anak Ya Ayah – Bunda, Ini 6 Dampak Negatifnya

Dikatakan, usaha batik di desanya terganggu. Karena akses jalannya terendam banjir. Jika hujan turun, usaha batik tak bisa dijalankan. “Banjir sudah 10 hari. Usaha batik terganggu. Kadang sehari jalan, sehari tutup. Yang utama akses jalannya sulit karena banjir,” ungkap dia.

Ia berharap pemerintah bisa menyediakan pompa air dengan kapasitas besar seperti di Kota Pekalongan. Pasalnya, tiga pompa air dengan kapasitas kecil yang sudah ada tak mampu mengatasi banjir di wilayah pesisir Kabupaten Pekalongan.

“Karangjompo, Tegaldowo, Mulyorejo yang diperlukan sedotan besar. Sedotan kecil ada tiga tapi ndak mampu karena banjirnya besar. Kalau hujan deras, air dari Desa Tanjung, Pacar masuk ke sini. Air ndak bisa keluar kalau tidak disedot,” ujar dia.

Mustafid, warga Desa Tegaldowo, menyatakan kondisi banjir cukup parah di desanya, khususnya di Dukuh Cokrah. Di dukuh ini semua jalan dan gang tidak ada yang dapat dilalui kendaraan bermotor. “Untungnya ada warga yang punya perahu atau sampan jadi bisa saling tolong menolong untuk membawa barang, bahkan mengangkut warga yang mau keluar masuk desa,” tutur dia.

0 Komentar