[PUISI 2] Mei di Sudut Kota

Mei di Sudut Kota
0 Komentar

Oleh: Zaidie Nur

Bukankah kenangan kita telah berlaluMelewati satu kota ke kota lainnyaMenebas waktu,dari hari ke tahun,musim-musim yang silih bergantipada kedai – kedai tanpa nama yang entah berantah.

Dari mimpi – mimpi yang dilupadetak – detak yang dipaksa berhentiKini ku menemukanmu lagi…

Di antara gelas-gelas retak berserakanTepi kota

Kenangan,Seperti meja kopi yang dipesan dan ditinggalkan

Kenanglah,bom waktu yang ke sekian,menu gula yang tak pernah dipesantelah kita cicipi pahit getirnya sajian masing-masing.Yang menyeruak dalam dada hingga mati rasa.

Baca Juga:Jembatan Kalibodri Kendal Bergeser Hingga 14 Cm, Kendaraan Berat Dilarang MelintasWajib Ditiru, Muhammadiyah dan NU Kendal Inisiasi Deklarasi Damai Jelang Pemilu 2024

Pada ragu-ragu yang menyublimManisnya gula atau takdir usia yang akan mengikis,cangkirku dan cangkirmu,masih enggan bersulangsedangkan waktu terus berjalandan lagi – lagi waktu akan menampar dengan bijaksana.

Demak, May 2023

_________________

ZAIDIE NUR, Kelahiran Surjo, Bawang, Batang, Peraih Anugerah Adi Acarya Award 2019 GMB Indonesia di Surakarta kategori penulis terbaik masyarakat literatif, Penulis buku Hikayat Bunga (2019).

Prosa dan puisinya terkumpul di beberapa buku antologi seperti Pandemi 1441 H, Spasi, Dialog Rajam dan media lain. Pernah aktif juga menulis skenario film indie. Mantan Pimpinan Redaksi Pers Mahasiswa ini juga masih produktif menulis puisi, “Mei di Sudut Kota” adalah salah satunya. Bisa disapa melalui Instagram @zaidie_nur

0 Komentar