“Artinya, jika mesin macet di tengah laut, sebagian besar nelayan kita masih sangat bergantung pada mekanik dari luar. Ini tantangan besar yang harus kita jawab bersama,” tegas Darsono.
Karena itu, Pemkab Batang menargetkan dalam lima tahun ke depan, yakni periode 2026–2030, dapat mencetak sedikitnya 500 nelayan yang memiliki keahlian memperbaiki mesin kapal. Pelatihan bagi 25 nelayan Roban Timur ini dinilai menjadi langkah awal yang sangat strategis.
“Saya mengapresiasi setinggi-tingginya PT Bhimasena Power Indonesia yang mendukung penuh pembiayaan kegiatan ini. Ini bukti nyata industri dan masyarakat bisa berjalan beriringan,” katanya.
Baca Juga:Sistem Dinilai Perlu Ditinjau Ulang, Gerindra Batang Dukung Pilkada Lewat DPRDLebih Ringan dari Tuntutan, Terdakwa Pengeroyokan Anak Divonis 3 Tahun
Darsono berharap sinergi antara Pemkab Batang dan BPI tidak berhenti pada pelatihan mesin semata, tetapi terus berlanjut dalam upaya menjaga ekosistem pesisir dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar PLTU Batang.
Ia juga berpesan kepada 25 nelayan peserta agar memanfaatkan pelatihan selama tiga hari tersebut secara maksimal. “Serap ilmu dari para narasumber, baik dari BPPP Tegal, HNSI, TNI AL, maupun Polairud. Manfaatkan fasilitas dan peralatan yang diberikan untuk mulai merawat mesin kapal secara mandiri,” pesannya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Batang Agung Wisnu Barata menjelaskan, tujuan pelatihan perawatan dan perbaikan motor diesel satu silinder ini adalah untuk meningkatkan kapasitas nelayan kecil di Kabupaten Batang.
“Sasarannya adalah meningkatnya pengetahuan dan keterampilan nelayan dalam merawat dan memperbaiki mesin kapal, merintis usaha perbengkelan, serta memperluas jaringan dalam mengembangkan usaha perikanan tangkap,” ungkap Agung.
Pelatihan diikuti 25 nelayan Roban Timur, Desa Sengon, Kecamatan Subah, serta sembilan penyuluh perikanan. Kegiatan dilaksanakan di kawasan Pantai Payung Sewu, Desa Depok, Kecamatan Kandeman, dengan narasumber dari Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Tegal. Seluruh biaya pelatihan didukung penuh oleh PT Bhimasena Power Indonesia.
Menurut Agung, dari 722 nelayan pemilik kapal di bawah 5 GT di Batang, sebanyak 685 orang masih membutuhkan pelatihan serupa. Nelayan yang mampu merawat dan memperbaiki mesin kapalnya sendiri dapat menghemat biaya servis hingga Rp1,5 juta–Rp2 juta per tahun.
