RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Kota Pekalongan kembali menunjukkan jati dirinya sebagai kota dengan tingkat toleransi yang luar biasa. Meski bertepatan dengan momen bulan suci Ramadan, Kirab Ritual dan Budaya Imlek 2026 yang diselenggarakan oleh Klenteng Po An Thian berlangsung meriah dan penuh harmoni pada Senin (2/3/2026).
Suasana khidmat terasa sejak dimulainya doa bersama pukul 13.00 WIB. Uniknya, di tengah prosesi ritual, umat Tridharma secara khusus memanjatkan doa bagi umat Muslim yang sedang berpuasa agar senantiasa diberikan keberkahan. Hal ini menjadi simbol kuat betapa indahnya keberagaman di Kota Batik.
Wali Kota Pekalongan, H Achmad Afzan Arslan Djunaid, hadir langsung untuk melepas peserta kirab didampingi jajaran Forkopimda, termasuk Kapolres Pekalongan Kota AKBP Riki Yariandi dan Dandim 0710/Pekalongan Letkol Arm Ihalauw Garry Herlambang.
Baca Juga:Dugaan Penggelapan Proyek Wisata Boja Rp2 Miliar, Pengusaha Kendal Laporkan Pasutri Arsitek asal Jakarta3 Deretan Destinasi Wisata Andalan di Kabupaten Pemalang
“Ini sudah agenda rutin tahunan ya. Inilah bentuk Kota Pekalongan yang asli, toleransinya sangat luar biasa. Walaupun diselenggarakan di bulan puasa, tidak menyurutkan semangat teman-teman Klenteng Po An Thian, juga tidak menyurutkan dukungan dari Pemerintah serta masyarakat,” ungkap Wali Kota yang akrab disapa Aaf tersebut dengan bangga.
Arak-arakan 11 Joli Dewa-Dewi
Iring-iringan kirab tahun ini menampilkan kemegahan 11 tandu (Joli), yang terdiri dari satu tandu pendupaan dan sepuluh tandu Dewa-Dewi. Sosok suci yang diarak meliputi dewa-dewi penting seperti Y.M. Sin Long Tay Tee (Dewa Pengobatan), Y.M. Tek Hay Cin Jin (Dewa Perdagangan), hingga Y.M. Kwan Se Im Po Sat (Dewi Welas Asih).
Melalui ritual ini, umat berharap Kota Pekalongan senantiasa diberikan kemakmuran dan dijauhkan dari segala marabahaya. Kemeriahan semakin memuncak dengan hadirnya atraksi enam barongsai dan naga dari Liong Samsie Dharma Asih Semarang, serta iringan Marching Band Gita Wiradesa.
Ketua Yayasan Tridharma Po An Thian, Heru Wibawanto Nugroho, menegaskan bahwa kirab ini bukan sekadar ritual menetralisir energi negatif, melainkan wujud nyata solidaritas antarumat beragama.
“Solidaritas dan tenggang rasa yang terjaga di Pekalongan adalah anugerah. Kita bisa hidup berdampingan dengan aman meski berbeda suku, agama, dan ras,” jelas Heru.
