Demi menjaga stabilitas Kesultanan Banten dan menghindari konflik yang melibatkan dukungan VOC terhadap Pangeran Haji, Arya Purbaya memilih meninggalkan Banten hingga akhirnya menetap dan wafat di wilayah Batang.
Sementara itu, Pastor Paroki Gereja Katolik Santo Yusup, Romo Paskalis Tejo Wibowo, menyampaikan bahwa pihak gereja terbuka memberikan ruang bagi umat Islam yang ingin berziarah maupun menggelar kegiatan keagamaan di Makam Mbah Dowo.
Menurutnya, keberadaan makam tersebut menjadi keunikan tersendiri dan menjadi bagian dari sejarah yang mempererat hubungan antarumat beragama.
Baca Juga:Dua Kelompok Pemuda Bersitegang di Pendopo Bupati Pekalongan, Pisau dan Rantai DiamankanPemkab Pekalongan Gelontorkan Rp5,8 Miliar untuk Peningkatan Jalan Watusalam, Lelang Pekan Depan
“Ini sebuah sukacita bagi kami karena dapat membantu umat Islam melaksanakan ibadahnya, berdoa, dan menggelar tahlilan di Makam Mbah Dowo. Ini menjadi keunikan yang kami miliki dan tidak banyak ditemukan di tempat lain,” tuturnya.
Ia menyebut, peziarah yang datang tidak hanya berasal dari Batang, tetapi juga berbagai daerah seperti Depok, Jakarta, Wonotunggal, Warungasem, hingga keluarga keturunan Kesultanan Banten. (nov)
