Melihat Penderitaan Orang-orang di Media Massa dan Dunia Maya

Fahrum Yahya
Fahrum Yahya menulis tentang penderitaan manusia di media massa dan dunia maya. Karena terlalu banyak melihat penderitaan, jangan sampai menipiskan sensitifitas rasa kita kepada mereka.
0 Komentar

Padahal seharusnya ia adalah representasi kehidupan manusia secara nyata. Tanpa refleksi mendalam kita hanya terjebak dalam narasi tragedi beralih kepada komoditas visual.

Dalam prespektif hak asasi manusia dokumentasi penderitaan orang lain menjadikan bukti penting dalam menentukan pelanggaran hak asasi manusia.

Sebagai bukti penting itulah yang menjadi tolak ukur keberhasilan dalam mengungkap pelanggaran hak asasi manusia.

Baca Juga:Kereta Api Makin Diminati! Penumpang KAI Daop 2 Bandung Melonjak 11,2% di Semester I 2026Kaderisasi Organisasi Mahasiswa sebagai Cermin bagi Partai Politik

Tetapi dalam tindakannya ada penyebaran gambar yang mesti dijaga. Semua gambar berbentuk foto dan video memang menjadi sarana efektif dalam dunia advokasi, dengan analisis konteks.

Itulah dasar yang menjadi dorongan kuat untuk bertindak secara struktural. Melihat masalah penderitaan orang-orang secara keseluruhan adalah poin penting.

Sehingga perubahan struktural menjadi pilihan ketimbang fokus atas penderitaan manusia dengan rasa iba yang reaktif secara singkat.

Seberapapun mengerikan gambar-gambar penderitaan orang, penderitaan itu akan terus menjadi penderitaan. Jika kita melihatnya sebagai sarana empati belaka.

Kita tidak akan benar-benar merasakan dan bisa mengklaim atas penderitaan orang lain hanya dalam media massa dan dunia maya.

Karena penderitaan orang lain, bukanlah aktivitas visual, melainkan panggilan moral kita untuk bertindak nyata mengubah penderitaan yang sejatinya adalah bagian dari masalah struktural yang dapat diubah. (*)

*) 27, Juli 2026. Sekertariat LKBH HMI Ciputat.Penulis adalah Kabid P3A HMI Komisariat Walisongo.

0 Komentar