Melihat Penderitaan Orang-orang di Media Massa dan Dunia Maya

Fahrum Yahya
Fahrum Yahya menulis tentang penderitaan manusia di media massa dan dunia maya. Karena terlalu banyak melihat penderitaan, jangan sampai menipiskan sensitifitas rasa kita kepada mereka.
0 Komentar

Oleh Fahrum Yahya

RADARPEKALONGAN.ID – Melihat penderitaan orang di media massa dan maya adalah bagaimana cara pandang mengkonsumsi tragedi kemanusiaan untuk tidak berakhir pada empati semata, melainkan untuk bertindak di kehidupan nyata dan merawatnya dari ketumpulan rasa.

Jauh-jauh hari Susan Sontag seorang kritikus budaya menawarkan cara berbeda dalam melihat penderitaan orang-orang. Lewat esai-esainya ia mengajak kita untuk melihat penderitaan orang dengan cara yang berbeda.

Foto dan video peristiwa penderitaan manusia secara terus menerus akibat dari peperangan, bencana dan berbagai tragedi kelas manusia yang diliput media berujung pada ketumpulan rasa kita melihat penderitaan manusia lainya.

Baca Juga:Kereta Api Makin Diminati! Penumpang KAI Daop 2 Bandung Melonjak 11,2% di Semester I 2026Kaderisasi Organisasi Mahasiswa sebagai Cermin bagi Partai Politik

Bukan karena penderitaan itu kehilangan makna, melainkan kita terlalu sering menjadi penonton penderitaan kemanusiaan lewat tribun ponsel kita.

Betapa tidak, bahwa tsunami informasi telah membuat kita begitu mudah mengonsumsi bayak foto dan video penderitaan orang lain.

Di belahan dunia lain, kita disuguhi foto anak-anak kelaparan akibat perang, dan korban konflik bersenjata, hingga jerit tangis manusia yang kehilangan rumah bahkan keluarga.

Di sekitar kehidupan kita sendiri, kita seperti dipaksa melihat penderitaan manusia dengan cara berbeda, kemiskinan, kesenjangan sosial dan segala penderitaan yang terus menerus tidak ada ujungnya.

Semua adalah krisis kemanusiaan yang terus-menerus kita lihat dengan rasa empati.

Lalu, apa yang salah dengan melihat penderitaan orang lain? Pada dasarnya tidak ada yang salah. Tetapi persoalan nya adalah bagaimana kita memaknai penderitaan orang-orang itu.

Apakah semua manusia punya kapasitas untuk menerima tsunami atas gambar penderitaan orang-orang?

Baca Juga:KAI Daop 2 Bandung Pastikan Jalur Kereta Api Tetap Aman, Gempa 4,9 M Guncang Selatan SukabumiMPLS SMAN 1 Pekalongan Bikin Heboh! Ratusan Siswa Baru Langsung Tanam 1.000 Mangrove, Ternyata Ini Alasannya

Empati memang terus muncul setiap kali kita melihat penderitaan orang lain, tetapi empati yang berganti belum tentu berubah menjadi tindakan nyata.

Di sinilah letak fatalnya, pengulangan gambar-gambar penderitaan manusia bisa saja berujung pada ketumpulan rasa kita akibat jenuh melihatnya karena memang itulah yang kita lihat sehari-hari.

Semua gambar-gambar penderitaan orang lain dalam dunia massa dan maya tidak selalu datang dari narasi yang netral.

Ada pilihan narasi, ada subjektifitas hingga kepentingan tertentu. Sehingga penderitaan orang-orang yang sampai kepada kita tidak selalu objektif.

0 Komentar