MPLS SMAN 1 Pekalongan Bikin Heboh! Ratusan Siswa Baru Langsung Tanam 1.000 Mangrove, Ternyata Ini Alasannya

MPLS SMAN 1 Pekalongan
MPLS SMAN 1 Pekalongan tahun ajaran 2026/2027 berlangsung tidak seperti biasanya. Sebanyak 321 siswa baru SMAN 1 Pekalongan diterjunkan ke kawasan konservasi pesisir untuk mengikuti aksi tanam 1.000 mangrove di Kota Pekalongan. Ini adalah kolaborasi Mercy Corps Indonesia melalui program Zurich Climate Resilience Alliance Indonesia (ZCRA Indonesia) bersama SMA Negeri 1 Pekalongan.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID – Hari Jumat 17 Juli 2026, MPLS SMAN 1 Pekalongan tahun ajaran 2026/2027 berlangsung tidak seperti biasanya.

Alih-alih hanya mengikuti perkenalan sekolah, sebanyak 321 siswa baru SMAN 1 Pekalongan justru diterjunkan ke kawasan konservasi pesisir untuk mengikuti aksi tanam 1.000 mangrove di Kota Pekalongan.

Kegiatan yang digelar pada Jumat (17/7) ini merupakan kolaborasi Mercy Corps Indonesia melalui program Zurich Climate Resilience Alliance Indonesia (ZCRA Indonesia) bersama SMA Negeri 1 Pekalongan.

Baca Juga:Siswa Baru SD Muhammadiyah Tangkil Tengah Dikenalkan dengan Budaya Literasi di UMPPSiswa Baru SMA Muhammadiyah 1 Pekajangan Membludak, 300 Pendaftar Berebut 226 Kursi

Tujuannya bukan sekadar menanam pohon, tetapi menanam kesadaran bahwa perubahan iklim di Pekalongan adalah ancaman nyata yang harus dipahami sejak dini.

Mengapa Siswa Baru SMAN 1 Pekalongan Menanam Mangrove?

Aksi penanaman mangrove di Kota Pekalongan dipilih sebagai puncak kegiatan MPLS bertema Smansa Cosmopolitan.

Melalui kegiatan ini, para siswa diajak melihat langsung kondisi pesisir yang terus menghadapi abrasi pantai, banjir rob, serta penurunan permukaan tanah (land subsidence).

Sekolah ingin membangun karakter peduli lingkungan sejak hari pertama para siswa mengenakan seragam putih abu-abu.

Dengan begitu, kepedulian terhadap alam tidak berhenti sebagai teori di ruang kelas, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata.

Perubahan Iklim di Pekalongan Semakin Mengkhawatirkan

Kota Pekalongan menjadi salah satu wilayah pesisir di Pantai Utara Jawa yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Fenomena genangan pesisir permanen terus meluas akibat kombinasi kenaikan muka air laut dan penurunan permukaan tanah.

Baca Juga:Korupsi Pejabat Daerah Tahun 2026, Antara Kebutuhan, Keserakahan, Kegagalan Sistem, dan Politik Majoritarian Korupsi di Indonesia Seperti Air Sudah Keruh dari Hulunya, Catatan Tambahan untuk Rizki Nuansa Hadyan

Melalui program ZCRA Indonesia, berbagai kajian ilmiah telah dilakukan sejak 2019 sebagai dasar penyusunan kebijakan adaptasi perubahan iklim.

Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kenaikan muka air laut di Pekalongan mencapai 7,2 milimeter per tahun.

Jika tren tersebut terus berlangsung, permukaan laut diproyeksikan meningkat hingga sekitar 40 sentimeter pada tahun 2050.

Di sisi lain, penurunan permukaan tanah di beberapa lokasi bahkan dapat mencapai 34,5 sentimeter per tahun, sehingga memperparah risiko banjir rob.

Mercy Corps Indonesia Ajak Generasi Muda Peduli Lingkungan

Sehari sebelum kegiatan penanaman, peserta MPLS mendapatkan pembekalan mengenai kondisi pesisir Pekalongan.

Knowledge Management Officer ZCRA Indonesia, Dhea Amelia Yusrina A.S., menjelaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

0 Komentar