PCNU Kota Pekalongan Usulkan Model Konvensi di Muktamar ke-35 NU, Tinggalkan Sistem 'One Man One Vote'

PCNU Kota Pekalongan Usulkan Model Konvensi di Muktamar ke-35 NU
Rais Syuriyah PCNU Kota Pekalongan Dr. K.H. Hasan Suaidi, M.Si. dan Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Pekalongan Dr. K.H. Moch. Machrus Abdullah, Lc. M.Si.
0 Komentar

PEKALONGAN, RADARPEKALONGAN.ID – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan mendorong adanya evaluasi mendasar terhadap mekanisme pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU mendatang.

PCNU Kota Pekalongan mengusulkan agar sistem pemilihan one man one vote (satu cabang satu suara) diganti dengan model konvensi dan formatur demi menjaga marwah organisasi.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Pekalongan, Dr. K.H. Moch. Machrus, Lc., M.Si., didampingi Rais Syuriyah, Dr. K.H. Hasan Su’aidi, M.Si., saat konferensi pers di Kantor PCNU Kota Pekalongan pada Ahad (9/8/2026).

Baca Juga:Di Beranda Muktamar: Menggeser Isu Kandidasi Menjadi Tarung ProgramGus Yahya Lantik Pengurus PCNU Kota Pekalongan 2025-2030, Tekankan Transformasi AI di Abad Kedua NU

Kiai Machrus menjelaskan bahwa berdasarkan hasil rapat jajaran pengurus bersama PCNU se-Pekalongan Raya, sistem pemilihan one man one vote yang diterapkan pada muktamar-muktamar sebelumnya dinilai kurang ideal dan perlu dievaluasi.

“Belajar sekaligus mengevaluasi pemilihan yang terdahulu, kita lihat sendiri pemilihan Ketua Umum dengan model seperti itu kurang pas untuk marwah NU. Terkesan sedikit bermasalah dan lebih ‘brutal’. Pola seperti itu tidak pas untuk NU,” ujar Kiai Machrus.

Sebagai solusinya, PCNU se-Pekalongan Raya mengusulkan mekanisme berbasis konvensi. Dalam model ini, setiap PCNU mengusulkan sekitar sembilan nama figur terbaik untuk dibawa ke forum Muktamar. Sembilan nama terpilih tersebut nantinya bertindak sebagai tim formatur yang bersama Rais Aam menetapkan Ketua Umum PBNU.

“Pola ini jauh lebih bagus, lebih menjaga nama baik dan marwah NU. Di organisasi besar dunia mana pun, tidak ada pemilihan dengan pola one man one vote. Alangkah baiknya NU mulai menerapkan sistem konvensi ini,” tegasnya.

Ia menambahkan, apabila usulan perubahan sistem ini belum dapat diimplementasikan penuh pada Muktamar ke-35, PCNU Kota Pekalongan akan terus memperjuangkannya di muktamar berikutnya.

Penetapan Nama Calon Melalui Rapat Gabungan

Terkait maraknya figur dan tokoh kiai yang mulai bermunculan sebagai bakal calon Ketua Umum PBNU, PCNU Kota Pekalongan menyambut positif dan mengapresiasi tingginya semangat para ulama untuk berkhidmat di PBNU.

Namun, untuk nama spesifik yang akan diusung oleh PCNU Kota Pekalongan, Kiai Machrus menegaskan bahwa penetapan nama tidak dilakukan secara perorangan, melainkan melalui tradisi rapat gabungan antara Syuriyah dan Tanfidziyah menjelang pelaksanaan muktamar.

0 Komentar