Di Beranda Muktamar: Menggeser Isu Kandidasi Menjadi Tarung Program

Ketua-pcnu-kota-pekalongan-muktamar-nu
Dr. H. Moch. Machrus Abdullah, Lc., M.Si. (Ketua PCNU Kota Pekalongan).
0 Komentar

Oleh: Dr. H. Moch. Machrus Abdullah, Lc., M.Si. (Ketua PCNU Kota Pekalongan).

ADA sejenis takzim sekaligus kecemasan yang ganjil setiap kali kita, para pengurus wilayah dan cabang, berkemas menuju sebuah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU). Di satu sisi, muktamar adalah forum tertinggi yang sakral, sebuah majelis penuh berkah tempat berkumpulnya “para pewaris nabi” guna merumuskan kemaslahatan umat. Di sana, martabat jam’iyah selalu dijunjung tinggi melalui musyawarah yang teduh dan penuh jalinan ukhuwah.

Namun, di sisi lain—seperti riak dinamika yang sempat terekam dalam ingatan kolektif kita di Muktamar Jombang beberapa waktu lalu—ada kalanya ruang yang khidmat itu sedikit terpekur oleh hiruk-pikuk kandidasi. Pertukaran nomor suara, diskusi di lobi hotel tentang konstelasi figur, hingga utak-atik dukungan faksi adakalanya menjadi begitu dominan. Seolah-olah, agenda besar organisasi keagamaan yang luhur ini diringkas menjadi sekadar urusan suksesi kepemimpinan, yang energinya lekas usai begitu ketuk palu terakhir berbunyi dan kita kembali ke daerah masing-masing.

Baca Juga:Muktamar Ilmu PWNU di Pekalongan: Belajar dari Gus Dur, Kritik Cerdas dan Tauhid yang InklusifMenang Boleh, Tumbuh Harus

Sebagai bagian dari mereka yang sehari-hari mengurus NU di tingkat cabang—khususnya di Kota Pekalongan, sebuah wilayah pesisir urban yang tumbuh di antara deru mesin industri batik dan denyut perdagangan—saya merenungkan bahwa kita tidak boleh lagi terjebak pada ritme yang sama. Kita perlu meletakkan otokritik secara jernih, mikul dhuwur mendem jero, menjaga kehormatan para guru kita sembari tetap berani menatap realitas yang sedang bergeser ekstrem.

Kita sedang dikepung oleh empat tantangan struktural yang nyata:

Pertama, migrasi ruang hidup melalui urbanisasi masif. NU lahir, besar, dan menjadi dewasa dari rahim pedesaan—dari tanah yang basah, aroma padi yang menguning, dan waktu yang bergerak lambat, di mana hubungan kiai dan jemaah diikat oleh kedekatan geografis yang intim. Namun, sejarah modern tak pernah betah tinggal di desa. Proyeksi data menunjukkan bahwa menjelang 2045, hampir 76% manusia Indonesia akan menjadi orang kota. Warga kota adalah manusia yang hidup dalam ritme industri yang rigid, pulang kerja melintasi senja yang letih, dengan waktu yang dihitung per menit. Di kota yang individualis dan serba bergegas ini, pendekatan dakwah tradisional kita mendadak kehilangan jangkarnya. Kita dituntut merombak total pola pendekatan agar tetap relevan bagi masyarakat urban yang serba terbatas waktunya.

0 Komentar