KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID – Tekanan ekonomi yang terus membelit sektor peternakan unggas mencapai titik kritis. Para peternak ayam petelur yang tergabung dalam Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) se-Jawa Tengah menyatakan kekesalannya atas kondisi usaha yang kian tak bersahabat.
Mereka berencana menggelar unjuk rasa damai secara serentak pada 10 Agustus 2026 mendatang, dengan aksi simbolis membagikan sekitar 50 ribu ekor ayam kepada warga sebagai bentuk protes keras terhadap tingginya biaya pakan dan anjloknya harga jual telur di tingkat peternak.
Rencana aksi ini akan dipusatkan di Alun-alun Kendal untuk wilayah Kabupaten Kendal, sementara di daerah lain, peternak juga akan bergerak di sejumlah titik strategis, termasuk kawasan di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang.
Baca Juga:DPRD Kendal Minta Mora Sandhy Fokus Hukum, Nonaktif Sementara dari DewanTim PkM USM Beri Psikoedukasi Kader PKK Lamper Lor tentang Kesehatan Mental Keluarga di Era Digital
Koordinator lapangan aksi untuk wilayah Kendal, Subakir, menyampaikan bahwa langkah ini bukan sekadar ajang demonstrasi biasa, melainkan bentuk keputusasaan para peternak yang setiap hari merugi. Menurutnya, biaya produksi yang terus melonjak tidak lagi sebanding dengan pendapatan dari hasil panen telur.
“Kondisi ini sudah sangat mengkhawatirkan. Peternak tidak sanggup lagi menahan beban. Harga pakan meroket sementara telur justru jatuh di pasaran. Banyak dari kami yang nyaris gulung tikar,” ujar Subakir kepada wartawan di Kendal, Kamis (30/7/2026).
Selain persoalan pakan, para peternak juga menyoroti masih minimnya penyerapan hasil produksi lokal oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengelola dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka menilai, komitmen untuk membeli telur dari peternak lokal dengan harga ideal belum terealisasi sepenuhnya.
Subakir mengungkapkan bahwa hasil pengecekan di lapangan menunjukkan masih banyak SPPG yang belum mengikuti arahan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) untuk membeli telur langsung dari peternak dengan harga Rp25 ribu per kilogram. Di Kendal sendiri, kondisi serupa turut ditemukan, di mana harga pembelian oleh SPPG dinilai masih berada di bawah kesepakatan.
“Kami sudah melakukan pengamatan langsung ke beberapa lokasi. Faktanya, komitmen itu masih jauh dari harapan. Kami minta agar arahan tersebut dijalankan dengan sungguh-sungguh demi keberlangsungan usaha peternak,” tegasnya.
