Kedua, kebangkitan kelas menengah baru. Bersama ekonomi yang merayap naik, lahir pula sejenis warga yang tidak lagi mempan didekati dengan instruksi dogmatis yang kaku. Mereka adalah kelas menengah yang menuntut rasionalitas. Mereka haus akan spiritualitas—ruang-ruang majelis taklim kota mendadak padat—namun mereka mencari agama yang menawarkan solusi manajerial, kedamaian psikologis, dan pemikiran yang logis. Jika jam’iyah ini masih dikelola dengan cara-cara amatir dan gagap administrasi, kelas menengah urban yang rasional ini akan dengan mudah berpaling ke narasi keagamaan lain yang tampil lebih tangkas dan profesional.
Ketiga, masyarakat yang semakin terdidik. Anak-anak muda santri hari ini tidak lagi sekadar menghafal bait-bait Nazham Imrithi di atas tikar pandan. Mereka mulai memperdebatkan data science, mengutak-atik kecerdasan buatan (AI), dan mencemaskan masa depan profesi mereka di hadapan mesin. Pendidikan melahirkan kemandirian berpikir (autonomous thinking). Otoritas tidak lagi otomatis melekat pada jubah atau gelar keulamaan kita, melainkan pada kredibilitas intelektual dan seberapa jauh empati kita sebagai pemimpin dalam menjawab kegelisahan zaman.
Keempat, pasar bebas digital yang mendisrupsi otoritas keagamaan. Dengan penetrasi internet di Indonesia yang kini telah menembus angka 80%, ruang publik telah mengalami desentralisasi yang luar biasa. Otoritas keagamaan tidak lagi tunggal. Hari ini, pasar keagamaan adalah pasar bebas yang terbuka di layar gawai melalui video pendek, podcast, dan teks instan. Merawat umat di era ini berarti harus mampu memenangkan algoritma dengan menyebarkan konten ahlussunnah wal jamaah yang substansial dan estetik, sebelum hati generasi muda direbut oleh gerakan transnasional atau kelompok ultra-konservatif yang agresif.
Baca Juga:Muktamar Ilmu PWNU di Pekalongan: Belajar dari Gus Dur, Kritik Cerdas dan Tauhid yang InklusifMenang Boleh, Tumbuh Harus
Kompas Muktamar harus diubah: Fokus utama kita bukan lagi sekadar memilih “siapa” figur yang akan memimpin, melainkan menguji “apa” program nyata yang mereka bawa untuk ri’ayatul ummah dan himayatuddin. Sungguh sebuah kelalaian yang melankolis jika forum tertinggi ini kembali terjebak pada polarisasi faksi atau kalkulasi logistik pemenangan. Tugas berat calon Ketua Umum PBNU mendatang bukan lagi menjadi makelar politik yang mengamankan posisi organisasi di hadapan negara, melainkan menjadi dirigen yang mampu merumuskan cetak biru makro di bidang pendidikan, ekonomi, dan dakwah digital guna mengawal transisi sosiologis yang raksasa ini. Kita membutuhkan pemimpin yang memiliki curiosity—rasa ingin tahu yang tak kunjung padam terhadap kegelisahan warganya di tingkat cabang dan ranting.
