PCNU Kota Pekalongan Usulkan Model Konvensi di Muktamar ke-35 NU, Tinggalkan Sistem 'One Man One Vote'

PCNU Kota Pekalongan Usulkan Model Konvensi di Muktamar ke-35 NU
Rais Syuriyah PCNU Kota Pekalongan Dr. K.H. Hasan Suaidi, M.Si. dan Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Pekalongan Dr. K.H. Moch. Machrus Abdullah, Lc. M.Si.
0 Komentar

“Rais Aam idealnya adalah sosok yang memunculkan karakter Zahid, Muharrik, Munazzim, serta Wara‘. Paling tidak figur yang terpilih mendekati kriteria-kriteria tersebut. Pemimpin PBNU harus mampu menjalankan program organisasi dalam bingkai Himayatuddin (menjaga agama) dan Ri’ayatul Ummah (mengayomi umat),” terangnya.

Merawat Aswaja dan Mengikuti Perkembangan Zaman

Kiai Hasan juga mengingatkan pesan sejarah dari para senior PBNU terdahulu yang mengibaratkan NU sebagai benteng utama penjaga tradisi dan akidah di Indonesia.

“Dengan jumlah warga Nahdliyin yang mencapai mayoritas di Indonesia, NU ini diibaratkan seperti RT dan RW-nya Indonesia dalam menjaga Ahlussunnah wal Jama’ah,” tuturnya.

Baca Juga:Di Beranda Muktamar: Menggeser Isu Kandidasi Menjadi Tarung ProgramGus Yahya Lantik Pengurus PCNU Kota Pekalongan 2025-2030, Tekankan Transformasi AI di Abad Kedua NU

Menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks, ia berpesan agar kepemimpinan PBNU di abad kedua ini senantiasa adaptif tanpa kehilangan pijakan prinsip utamanya.

“Poin pentingnya adalah bagaimana ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah ini tetap terjaga dengan baik, serta NU mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai ke-Aswaja-annya,” pungkas Kiai Hasan Su’aidi.

0 Komentar