“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak anak muda Pekalongan lebih peduli terhadap lingkungan. Isu lingkungan bukan sesuatu yang jauh, tetapi sangat dekat dengan kehidupan mereka. Perubahan kawasan pesisir akan menjadi ancaman bagi ruang hidup generasi muda di masa depan,” ujarnya.
Ia juga mengajak para pelajar untuk tetap ingin tahu, tangguh, dan mampu beradaptasi menghadapi perubahan iklim.
Menurutnya, setiap anak muda dapat berkontribusi menjaga lingkungan sesuai minat dan kemampuan masing-masing.
SMAN 1 Pekalongan Perkuat Komitmen sebagai Sekolah Adiwiyata
Baca Juga:Siswa Baru SD Muhammadiyah Tangkil Tengah Dikenalkan dengan Budaya Literasi di UMPPSiswa Baru SMA Muhammadiyah 1 Pekajangan Membludak, 300 Pendaftar Berebut 226 Kursi
Komitmen SMAN 1 Pekalongan terhadap pelestarian lingkungan telah dibuktikan melalui berbagai penghargaan.
Sekolah ini pernah meraih predikat Adiwiyata Provinsi pada 2013, Adiwiyata Nasional pada 2014, dan dikukuhkan sebagai Sekolah Adiwiyata Mandiri pada 2024.
Salah satu guru penggagas kegiatan, Ainun Najib, mengatakan penghargaan tersebut menjadi motivasi agar budaya peduli lingkungan terus hidup di sekolah.
“Melalui MPLS kami mengenalkan budaya menjaga lingkungan sejak hari pertama. Siswa dibiasakan bertanggung jawab terhadap sampahnya sendiri, mengurangi penggunaan plastik, hingga ikut melindungi kawasan pesisir melalui penanaman mangrove,” katanya.
1.000 Mangrove Akan Terus Dipantau
Program ini tidak berhenti setelah proses penanaman selesai.
Sebanyak 1.000 bibit mangrove akan dipantau secara berkala pada bulan pertama dan bulan ketiga setelah ditanam.
Targetnya, tingkat kelangsungan hidup bibit mencapai lebih dari 70 persen pada bulan pertama dan di atas 60 persen pada bulan ketiga.
Mangrove yang tumbuh diharapkan mampu mengurangi abrasi pantai, menyerap karbon, memperbaiki ekosistem pesisir, sekaligus mendukung kehidupan biota laut yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Kolaborasi Menjadi Kunci Ketahanan Pesisir Pekalongan
Baca Juga:Korupsi Pejabat Daerah Tahun 2026, Antara Kebutuhan, Keserakahan, Kegagalan Sistem, dan Politik Majoritarian Korupsi di Indonesia Seperti Air Sudah Keruh dari Hulunya, Catatan Tambahan untuk Rizki Nuansa Hadyan
Aksi penanaman 1.000 mangrove di Kota Pekalongan membuktikan bahwa menghadapi perubahan iklim tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
Kolaborasi antara Mercy Corps Indonesia, ZCRA Indonesia, SMAN 1 Pekalongan, pemerintah, dan masyarakat menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan dapat melahirkan generasi yang peduli terhadap lingkungan.
Dari seribu bibit mangrove yang ditanam para siswa baru hari itu, tumbuh harapan besar bagi masa depan pesisir Kota Pekalongan yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim. (sep)
