KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID – Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, turut serta dalam prosesi Jamasan Soko Guru Masjid Agung Kendal yang digelar pada Sabtu (1/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pelestarian cagar budaya sekaligus penghormatan terhadap sejarah penyebaran Islam di wilayah Pantura Jawa Tengah.
Jamasan yang dilakukan terhadap empat tiang utama atau soko guru masjid tersebut bukan sekadar rutinitas kebersihan, melainkan ritual tahunan yang sarat makna spiritual dan historis. Keempat tiang kayu jati itu diyakini sebagai peninggalan empat tokoh Wali Songo, yaitu Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati.
Bupati Dyah Kartika dalam sambutannya menekankan bahwa Masjid Agung Kendal memiliki posisi strategis tidak hanya sebagai tempat salat, tetapi juga sebagai pusat pengembangan dakwah dan kegiatan sosial keagamaan. Ia menyebut, pelestarian terhadap soko guru menjadi bukti komitmen masyarakat dan pemerintah daerah dalam merawat jejak peradaban Islam.
Baca Juga:Peringatan HAN 2026, Wali Kota Semarang Dorong Anak Berani Bicara dan Lawan KekerasanFTP Unika Soegijapranata Gelar Seminar Nasional Integrasi Bahari dan Agraris
“Masjid Agung Kendal harus terus dimakmurkan, tidak hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga sentra dakwah dan kegiatan budaya Islam. Kami dari Pemkab Kendal akan terus mendukung pemeliharaan dan penyelesaian revitalisasi masjid ini,” ujar Dyah di lokasi acara.
Diketahui, prosesi jamasan diawali dengan pembacaan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan pembersihan fisik keempat tiang menggunakan perlengkapan tradisional. Uniknya, masing-masing soko guru memiliki penempatan yang sudah dipertahankan sejak awal pembangunan, yakni Soko Guru Sunan Bonang di sisi barat laut, Sunan Ampel di barat daya, Sunan Kalijaga di timur laut, dan Sunan Gunung Jati di tenggara.
Masjid Agung Kendal sendiri mulai dibangun pada tahun 1493 Masehi oleh Simbah Walijoko atau Syekh Rofiuddin atas arahan para ulama besar. Hingga kini, bangunan suci tersebut tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi destinasi wisata religi yang kerap dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.
Dengan tetap mempertahankan eksistensi empat tiang utama tersebut, masyarakat Kendal dinilai mampu menjaga otentisitas bangunan meski telah beberapa kali mengalami renovasi. Keberadaan soko guru pun menjadi pengingat akan kuatnya akar sejarah Islam di Bumi Kendal yang masih terawat hingga abad ke-21.
