BATANG, RADARPEKALONGAN.ID — M. Fata Ulinuha, seorang petani muda dari Generasi Z di Desa Timbang, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Batang, berhasil meningkatkan nilai tambah komoditas pisang tanduk melalui inovasi produk olahan sale pisang kekinian.
Mantan pekerja asal Jakarta tersebut memilih pulang kampung untuk mengolah lahan pertanian seluas 3,8 hektar milik keluarga. Ia mengkreasikan pisang tanduk hasil panennya menjadi sale berbentuk potong seragam (bite-sized) berukuran 6 x 6 sentimeter yang ditaburi topping kacang-kacangan dan biji-bijian.
Fata menjelaskan bahwa langkah hilirisasi ini diambil guna memutus ketergantungan pada rantai penjualan tengkulak yang cenderung membatasi harga jual pisang mentah.
Baca Juga:BPP Kota Pekalongan Raih Juara III Nasional Lomba Video Kreatif Penyuluh PertanianNekat Salip Tronton di Nolokerto Kendal, Pemotor Asal Kaliwungu Tewas Tertabrak
“Harga pisang tanduk kalau hanya dijual mentah ke tengkulak ada batas maksimalnya. Karena itu, kami memutuskan mengolah hasil panen sendiri agar nilai ekonomisnya jauh lebih tinggi,” ujar Fata saat dikonfirmasi, Rabu (2/9/2026).
Dalam proses produksinya, Fata memanfaatkan teknologi mesin dehydrator dengan metode pengeringan suhu rendah. Teknik ini dipilih untuk mempertahankan kandungan nutrisi alami serta cita rasa khas dari buah pisang.
Produk olahan tersebut dipasarkan secara daring dalam dua varian kemasan, yakni kemasan besar isi 10 potong seharga Rp30.000 dan kemasan fun pack isi 6 potong seharga Rp20.000. Dalam kurun tiga minggu awal pemasaran, produk ini telah terjual sekitar 200 kemasan ke berbagai kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.
Dengan populasi 5.400 pohon pisang di lahannya, Fata memastikan pasokan bahan baku dapat terpenuhi secara mandiri untuk menjaga keberlanjutan produksi. (nov)
