KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID — Peternak ayam petelur skala menengah dan kecil di Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, mulai menjerit akibat tergerusnya margin usaha oleh tingginya biaya pakan.
Saat ini harga telur di tingkat peternak bertahan rendah pada kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per kilogram. Di sisi lain, harga komponen pakan seperti jagung menembus Rp 7.100 per kg, katul Rp 6.000 per kg, dan konsentrat mendekati Rp 10.000 per kg.
Ketidakseimbangan ini memaksa peternak merogoh kocek pribadi (nombok) demi menutupi biaya operasional harian produksi kandang.
Baca Juga:Belum Direnovasi Sejak 2008, Plafon SDN 2 Banyuurip Kendal Ambruk dan Ancam Keselamatan Siswaramalan keuangan zodiak 24 September 2026 untuk Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces
Salah seorang peternak ayam petelur asal Patean, Eri Setianto, mengungkapkan bahwa tekanan ekonomi semakin terasa berat ketika harga jual ayam afkir jatuh di angka Rp 11.000 hingga Rp 13.000 per ekor.
“Pakan terus meroket sementara harga telur stagnan. Peternak skala populasi 2.000 sampai 3.000 ekor sangat kesulitan. Kami berharap dukungan program pasokan jagung SPHP bisa dilanjutkan lagi,” kata Eri di Kendal, Selasa (22/9/2026).
Menanggapi kondisi kritis tersebut, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal menggelar pelatihan efisiensi pakan bertajuk Tetap Survive Beternak Ayam Petelur di Masa Sulit bagi 30 peternak lokal.
Ketua Tim Kerja Seksi Produksi Peternakan DPP Kendal, drh Sri Wahyuni, menyampaikan bahwa edukasi difokuskan pada racikan formulasi ransum mandiri serta pemanfaatan bahan lokal agar beban biaya pakan dapat dipangkas.
“Ini merupakan langkah konkrit pemerintah daerah membantu peternak bertahan. Selain pendampingan formulasi ransum, kami juga menyalurkan bantuan disinfektan, premik mineral, dan vitamin,” jelas Sri Wahyuni. (fur)
