RADARPEKALONGAN.ID — Dampak kemarau panjang yang melanda Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, kian meluas. Memasuki bulan keempat masa kekeringan, warga di kawasan pegunungan Kecamatan Kandangserang terpaksa memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan MCK (mandi, cuci, kakus).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan mencatat, hingga akhir September 2026, total bantuan air bersih yang telah disalurkan mencapai 1.454.000 liter atau setara 338 armada tangki.
Distribusi air bersih darurat tersebut disebar ke 17 desa yang tersebar di 10 kecamatan guna mengintervensi krisis air bersih yang menimpa 3.837 Kepala Keluarga (12.839 jiwa).
Baca Juga:Harga Pakan Meroket, Peternak Ayam Petelur di Patean Kendal Mulai NombokHendak Tawuran di Gili Tengah Wonokerto, 4 Remaja Diamankan Warga dan Wajib Lapor ke Polsek
Kepala Desa Garungwiyoro, Jariyah, mengungkapkan bahwa sumur-sumur warga dan sumber mata air pegunungan telah mengering total sejak empat bulan terakhir.
“Sumur warga mengering dan debit mata air menyusut drastis. Warga terpaksa mengangkut air dari sungai untuk mandi dan mencuci, sementara untuk konsumsi minum dan memasak warga harus membeli air galon,” ujar Jariyah di Pekalongan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan, Agus Pranoto, menyampaikan bahwa krisis air bersih saat ini tak hanya melanda wilayah pegunungan selatan seperti Kandangserang dan Paninggaran, tetapi juga telah merambat ke kawasan dataran rendah.
Kecamatan Doro menjadi wilayah dengan pasokan bantuan terbesar mencapai 578.500 liter (136 tangki), disusul Kecamatan Sragi sebanyak 305.000 liter (75 tangki).
“Penyaluran air bersih kami fokuskan ke titik-titik darurat mendesak. Selain penanganan darurat, solusi jangka panjang seperti pembangunan sumur dalam (deep well) dan perbaikan jaringan PAMSIMAS sangat dibutuhkan agar krisis tidak berulang setiap tahun,” kata Agus. (had)
