Tim Patriot UNDIP dan Pemkab Keerom Sulap 127 Titik Sampah Liar Jadi Peluang Ekonomi

Tim Patriot UNDIP dan Pemkab Keerom Sulap 127 Titik Sampah Liar Jadi Peluang Ekonomi
IST. BERFOTO - Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) Tim 9 bersama Pemerintah Kabupaten Keerom dan warga Kampung Woslay, Distrik Senggi, kompak bersama.
0 Komentar

KEEROM, RADARPEKALONGAN.ID — Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) Tim 9 berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Keerom dan warga Kampung Woslay, Distrik Senggi, Papua, menginisiasi program penanganan masalah sampah terpadu.

Langkah strategis tersebut dirumuskan melalui Focus Group Discussion (FGD) guna menanggulangi keberadaan 127 titik pembuangan sampah liar yang tersebar di kawasan Satuan Permukiman (SP) 1 dan SP 2.

Ketua Tim 9 TEP UNDIP, Dr. Mardwi Rahdriawan, S.T., M.T., menjelaskan bahwa pendekatan utama program ini menitikberatkan pada pemilahan sampah langsung dari sumbernya atau tingkat rumah tangga.

Baca Juga:Keracunan Massal MBG di Batang Capai 411 Orang, BGN Sanksi Tutup Dapur SPPG BawangPolisi Dalami Kasus Percobaan Curanmor di Paninggaran, Tiga Anak Diamankan Warga

Sampah organik diarahkan untuk diolah menjadi kompos pertanian, sementara sampah anorganik didaur ulang guna mendatangkan nilai ekonomi bagi masyarakat lokal.

“Kami mendorong pemilahan dari sumbernya agar penumpukan residu terminimalkan sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi warga Woslay,” ujar Mardwi.

Guna mendukung kelancaran program, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKPP) Kabupaten Keerom, Triyani A. Fugu, S.Hut., mengonfirmasi penambahan dua unit truk Arm Roll untuk memperluas jangkauan operasional pengangkutan sampah.

Di sisi lain, Kepala Distrik Senggi, Daud Yunam, telah menyediakan lahan strategis di jalur utama dekat kantor distrik yang akan difungsikan sebagai lokasi Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST).

Masyarakat Kampung Woslay menyepakati skema operasional swadaya, termasuk layanan penjemputan sampah dari rumah ke rumah (door-to-door), pengadaan bak sampah komunal, serta kesepakatan iuran warga demi menjaga keberlanjutan fasilitas lingkungan tersebut. (Anang)

0 Komentar