PEKALONGAN, RADARPEKALONGAN.ID – Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran (PINTAR) Tanoto Foundation terus mendorong penguatan pengelolaan pendidikan di tingkat sekolah dasar. Melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), para kepala sekolah di Kota Pekalongan didorong untuk menerapkan tata kelola yang kolaboratif, transparan, serta berbasis data dan kebutuhan riil satuan pendidikan.
Fasilitator Tanoto Foundation, Trimanto, menjelaskan bahwa pelatihan Modul II menitikberatkan pada penyebaran praktik baik dalam pengelolaan MBS. Pelatihan ini memfasilitasi peserta untuk mengevaluasi capaian sekolah sekaligus memperkuat budaya baca, transparansi anggaran, akuntabilitas publik, dan efektivitas supervisi akademik.
“Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kompetensi kepala sekolah dalam menerapkan prinsip MBS secara efektif, partisipatif, transparan, dan berorientasi pada peningkatan mutu pembelajaran serta layanan pendidikan,” ujar Trimanto dalam keterangannya, Senin (5/10/2026).
Baca Juga:DP3AP2KB Batang Gelar Workshop Kesehatan Mental, Para Ibu Imbau Pahami Psikologis KeluargaBertemu Orang Menarik? Ramalan Cinta Zodiak 4 Oktober 2026 untuk Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces
Pelibatan Seluruh Pemangku Kepentingan
Trimanto menegaskan, keberhasilan pilar MBS tidak hanya bertumpu pada peran kepala sekolah. Penerapan hasil Bimtek wajib melibatkan seluruh ekosistem pendidikan, mulai dari guru, tenaga kependidikan, siswa, komite sekolah, hingga orang tua murid.
Menurutnya, kepala sekolah perlu bertindak sebagai pemimpin pembelajaran yang kolaboratif, reflektif, dan inovatif. Pemimpin sekolah diharapkan mampu membaca potensi dan kebutuhan lingkungan belajarnya guna membangun budaya organisasi yang adaptif.
“Praktik MBS diharapkan tidak hanya menjadi pengetahuan teoritis, tetapi bertransformasi menjadi budaya pengelolaan sekolah yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan demi meningkatkan kualitas pendidikan,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret pasca-pelatihan, para peserta diwajibkan mendiseminasikan hasil Bimtek melalui pembagian praktik baik (good practices), pemetaan masalah (problem mapping), dan penyusunan rencana aksi berbasis data. Pengawas sekolah juga diposisikan sebagai pendamping utama untuk memastikan konsistensi keterlaksanaan program.
“Pelatihan ini adalah titik awal perubahan. Mari mengubah pengetahuan menjadi praktik, praktik menjadi kebiasaan, dan kebiasaan menjadi budaya sekolah yang mandiri serta berorientasi pada keberhasilan peserta didik,” kata Trimanto.
Respons Positif dari Satuan Pendidikan
Inisiatif penguatan MBS ini mendapat sambutan positif dari para praktisi pendidikan di lapangan. Kepala SDN Krapyak Lor 4 Kecamatan Pekalongan Utara, Arif Masrukin, menilai materi Bimtek PINTAR MBS memberikan arahan strategis dalam tata kelola sekolah.
