Penurunan Muka Tanah di Stadion Hoegeng Pekalongan Capai 33 Sentimeter Selama Kurun 2020–2026

Penurunan Muka Tanah di Stadion Hoegeng Pekalongan Capai 33 Sentimeter Selama Kurun 2020–2026
ISTIMEWA. PANTAU - Kemitraan Indonesia dalam program Sekolah Iklim mengajak siswa meninjau patok penurunan muka tanah di Stadion Hoegeng.
0 Komentar

PEKALONGAN, RADARPEKALONGAN.ID — Pemerintah Kota Pekalongan melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) mencatat laju penurunan muka tanah (land subsidence) di kawasan Stadion Hoegeng telah mencapai 33 sentimeter dalam kurun waktu enam tahun terakhir, yakni periode Maret 2020 hingga Oktober 2026.

Berdasarkan data pemantauan titik patok tetap, rata-rata laju penurunan tanah di wilayah pesisir tersebut saat ini masih berkisar antara 5 hingga 6 sentimeter per tahun.

Tiga faktor utama penyebab fenomena ini meliputi karakteristik struktur tanah aluvial yang masih muda dan lunak, beban konstruksi bangunan sipil, serta eksploitasi pengambilan air tanah yang masif.

Baca Juga:Razia Tempat Hiburan Malam di Kendal, Polisi dan BNNK Temukan Dua Orang Positif NarkobaTagihan Menurun? Ramalan Keuangan Zodiak 13 Oktober 2026 untuk Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces

“Penyebab utama penurunan tanah di Kota Pekalongan ada tiga, yakni kondisi alamiah tanah yang masih muda dan lunak, pembebanan bangunan sipil, serta pengambilan air tanah. Kami membutuhkan pemikiran out of the box dari anak muda untuk efektivitas penggunaan air,” ujar

JF Perencana Muda Bapperida Kota Pekalongan, Dyah Wahyuningrum, di Pekalongan.Guna menekan laju penurunan tanah, Bapperida tengah merumuskan konsep Integrated Water Resources Management (IWRM) atau pengelolaan sumber daya air terpadu, termasuk memproyeksikan air permukaan sungai sebagai sumber air baku alternatif pengganti sumur bor.

Upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim tersebut turut disosialisasikan kepada generasi muda melalui pelibatan 30 pelajar tingkat SMA/SMK dalam program “Sekolah Iklim” yang diinisiasi oleh Adaptation Fund Kemitraan Indonesia.

Project Officer Comdev Kemitraan Indonesia, Eva S. Nisa, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan edukasi lapangan, meliputi peninjauan patok penurunan tanah di Stadion Hoegeng, pengelolaan sampah di TPS-3R Padukuhan Kraton, hingga konservasi mangrove di Pekalongan Mangrove Park bertujuan membekali pelajar agar memiliki kepekaan ekologis.

Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, lembaga non-pemerintah, dan komunitas pelajar ini diharapkan mampu melahirkan inovasi nyata dalam mewujudkan ketahanan iklim Kota Pekalongan di masa depan. (nul)

0 Komentar