KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID — Santri tidak hanya dituntut mendalami ilmu agama di dalam pondok pesantren, tetapi juga memikul tanggung jawab moral dalam menjaga kedaulatan NKRI, merawat persatuan, serta mengawal pembangunan bangsa.
Pesan kebangsaan tersebut mengemuka dalam Halaqah Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2026 bertema “Revitalisasi Nilai Resolusi Jihad dalam Bela Negara” yang dihelat di Pendopo Tumenggung Bahurekso Setda Kendal, Jawa Tengah, Selasa (20/10/2026).
Agenda diskusi keilmuan yang dipandu KH Mukhamad Mustamsikin tersebut menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri KH Reza Ahmad Zahid serta Mudir Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang Dr KH Achmad Roziqi.
Baca Juga:Tekan Pergaulan Negatif Siswa, SMAN 3 Pekalongan Terbitkan Imbauan Jam Malam Pukul 21.00 WIBMusim Hujan Tiba, KAI Daop 4 Semarang Siaga di 3 Titik Jalur Kereta Api Rawan Banjir di Kendal
“Sebagai pewaris tradisi, ilmu, dan agama, santri memiliki kekuatan besar untuk membangun masa depan. Kami mengajak ulama dan masyarakat bersama-sama membangun Kabupaten Kendal,” ujar Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, di Kendal.
Dalam pilar histori kebangsaan, KH Reza Ahmad Zahid (Gus Reza) menegaskan bahwa prinsip cinta tanah air (hubbul wathan) memiliki dasar teladan ajaran Islam yang kuat.
Sementara itu, Dr KH Achmad Roziqi menguraikan keterkaitan kronologi fatwa jihad KH Hasyim Asy’ari pada September 1945 hingga tercetusnya Resolusi Jihad NU pada 22 Oktober 1945 sebagai pemicu perlawanan rakyat mempertahankan kemerdekaan.
Pemerintah Kabupaten Kendal menegaskan komitmennya untuk terus mendukung penguatan pendidikan pesantren, peningkatan kapasitas santri, serta pembentukan karakter generasi muda melalui program kolaborasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD). (fur)
