PEKALONGAN, RADARPEKALONGAN.ID — Ancaman krisis regenerasi pelaku usaha serta tenaga perajin menjadi tantangan krusial dalam mempertahankan eksistensi dan keberlangsungan industri batik di sentra Kampung Batik Kauman, Kota Pekalongan, Jawa Tengah.
Penurunan jumlah unit produksi batik di kawasan cagar budaya tersebut dipicu oleh minimnya minat generasi muda untuk meneruskan bisnis keluarga, yang berujung pada alih profesi hingga perpindahan lokasi usaha.
Ketua Paguyuban Kampoeng Batik Kauman sekaligus pelaku usaha batik daerah, Muhammad Fauzi Hidayat, mengungkapkan bahwa persoalan regenerasi ini menjadi fokus perhatian utama yang harus segera disikapi secara kolaboratif.
Baca Juga:Polisi Libatkan Labfor Telusuri Benda Logam dari Tubuh Bocah di Kaliwungu KendalManfaatkan Intuisi! Ramalan Zodiak 6 November 2026 untuk Sagitarius, Capricorn, Aquarius,dan Pisces
“Ini memang menjadi pekerjaan rumah kami di perkumpulan Kampung Batik Kauman. Bagaimana supaya generasi muda sebagai generasi penerus bisa ikut melestarikan dan meneruskan dunia batik, baik dari sisi bisnis, pelestarian, maupun edukasinya. Paling tidak, mereka harus mencintai batik terlebih dahulu,” ungkap Fauzi saat dikonfirmasi di Kampung Batik Kauman.
Fauzi menjelaskan, penumbuhan minat anak muda digenjot melalui berbagai agenda edukatif seperti gelaran Kauman Batik Art Fest dan ruang bincang inspiratif guna memperluas pemahaman potensi ekonomi warisan budaya tersebut.
“Harapan kami, kegiatan ini bukan sekadar seremonial atau ramai-ramai saja, tetapi ada dampaknya bagi Kauman maupun masyarakat Pekalongan secara umum. Kami ingin generasi muda mendapatkan inspirasi, menambah pengetahuan, dan semakin mencintai batik. Semoga ini bisa menjadi pemantik untuk membangkitkan semangat mereka dalam melestarikan batik,” jelasnya.
Fauzi mencatat, jumlah bengkel kerja (workshop) produksi batik di Kauman saat ini hanya tersisa sekitar delapan unit dari semula mencapai 15 unit, dengan populasi pengusaha yang berkisar antara 30 hingga 40 orang.
Tantangan kian berat mengingat mayoritas pembatik tulis maupun penabuh cap telah memasuki usia lanjut, sementara alih generasi tenaga kerja perajin masih berjalan secara alamiah.
“Sementara jumlah pengusaha batik diperkirakan masih berkisar 30 hingga 40 orang. Tantangan lainnya adalah regenerasi perajin, mengingat sebagian tenaga pembatik dan pengecap saat ini sudah berusia lanjut. Selama ini, regenerasi perajin cenderung berlangsung secara alami,” ungkapnya.
