RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Sempat memanas dan diwarnai aksi penolakan, polemik urusan lahan perparkiran antara warga lokal dan manajemen Mie Gacoan Pekalongan akhirnya berujung manis alias damai!
Kepolisian Resor (Polres) Pekalongan Kota sukses menjadi jembatan penengah dalam perseteruan ini. Lewat proses mediasi yang sempat berjalan alot di Ruang Satuan Intelkam pada Kamis (16/4/2026) siang, seluruh pihak yang bersitegang akhirnya legawa dan menandatangani surat kesepakatan bersama.
Momen bersejarah ini dihadiri langsung oleh perwakilan juru parkir (jukir) dari outlet Mie Gacoan 1 dan 2, Legal Manager CV Pesta Abadi Pangan (Mie Gacoan), vendor parkir CV Setia Bersama, serta dikawal oleh Wakapolres Pekalongan Kota Kompol Akhwan Nadzirin dan Kasat Intelkam AKP Maryoto.
Baca Juga:Asyik Nongkrong Saat Jam Belajar, Puluhan Pelajar SMA Terjaring Razia Satpol PP di PetungkriyonoMenggemaskan! Puluhan Anak TK Serbu Guest House, Bunda PAUD Pekalongan Ajarkan Adab Bertamu
Warga Bernapas Lega, Upah Diketok Palu!
Lantas, apa hasil kesepakatannya? Angin segar berhembus bagi warga sekitar! Pihak vendor memastikan komitmennya untuk tetap merekrut dan memberdayakan warga lokal sebagai jukir resmi di gerai mi pedas favorit sejuta umat tersebut.
Tak cuma itu, urusan cuan pun sudah disepakati dengan jelas. Para jukir bakal mengantongi upah kerja sebesar Rp75.000 per orang untuk setiap kehadiran shift kerja! Dalam praktiknya di lapangan, pihak vendor membutuhkan tenaga 12 orang jukir setiap harinya yang akan dipecah ke dalam tiga shift operasional.
Legal Manager Mie Gacoan Pekalongan, Zulkarnaen Ahmad Kurniawan, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya atas happy ending ini.
“Alhamdulillah hari ini sudah terjadi komunikasi dan pertemuan antara semua pihak, baik dari manajemen, vendor, maupun warga lingkungan dari Mie Gacoan 1 dan 2. Intinya, ketika niatnya baik, insyaallah hasilnya juga baik,” ungkap Zulkarnaen dengan penuh kelegaan.
Ia menegaskan bahwa kesepakatan ini adalah kunci utama agar roda bisnis dan aktivitas warga sekitar bisa hidup berdampingan secara harmonis.
“Vendor pengelolaan parkir yang kami tunjuk sudah berkomunikasi dengan pihak lingkungan, dan alhamdulillah hasilnya baik bagi semua pihak. Lingkungan tetap terjaga, dan operasional Mie Gacoan kembali kondusif,” pungkasnya mantap.
Sebagai pengingat, konflik ini bermula ketika para jukir lokal secara tegas menolak rencana manajemen yang mengalihkan urusan parkir ke vendor pihak ketiga. Warga saat itu waswas jika mata pencaharian mereka direbut. Di sisi lain, pihak Mie Gacoan hanya bermaksud meningkatkan profesionalitas pengelolaan parkir.
