Eugenol dan Metileugenol Jadi Perhatian, Konsumen Obat Herbal Diminta Waspada

Ilustrasi
Ilustrasi obat herbal. (Gemini)
0 Komentar

JAKARTA — Kandungan senyawa kimia alami dalam produk obat herbal berbahan rempah-rempah perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama pada produk yang menggunakan ekstrak daun cengkeh.

Meski berasal dari bahan alami, sejumlah senyawa yang terkandung di dalamnya tetap memiliki potensi risiko kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan atau tanpa pengawasan yang tepat.

Daun cengkeh diketahui mengandung eugenol, senyawa alami yang umum ditemukan dalam minyak cengkeh. Dalam konteks tertentu, bahan tersebut juga dikaitkan dengan keberadaan senyawa turunan seperti metileugenol yang dalam berbagai kajian toksikologi mendapat perhatian karena berpotensi memicu kanker.

Baca Juga:Tembus Rp9,28 Miliar! Lazismu Kendal Lampaui Target Qurban, Kepercayaan Publik MelesatKasus Day Care Yogya Disorot, KH Yusuf Chudlori: Negara Harus Hadir, Regulasi Diperketat

Namun demikian, keberadaan daun cengkeh dalam suatu produk obat herbal tidak serta-merta dapat dinyatakan berbahaya. Para ahli menekankan pentingnya membedakan antara potensi bahaya suatu zat dengan tingkat risiko nyata terhadap manusia.

Eugenol sendiri merupakan komponen utama minyak cengkeh yang lazim ditemukan di alam dan banyak dimanfaatkan dalam produk kesehatan maupun pangan. Sementara itu, metileugenol merupakan senyawa berbeda yang lebih banyak mendapat sorotan dalam penelitian toksikologi internasional.

Di Amerika Serikat, tepatnya di Negara Bagian California, metileugenol masuk dalam daftar senyawa yang diatur melalui aturan pelabelan Proposisi 65 (Prop65). Regulasi tersebut mewajibkan adanya peringatan pada produk yang mengandung zat tertentu yang dinilai berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.

Meski demikian, eugenol tidak termasuk dalam daftar tersebut, walaupun tetap menjadi perhatian terkait tingkat paparan dan dosis penggunaannya terhadap manusia.

Badan Internasional untuk Riset Kanker (IARC) dalam kajiannya pada 14 Juli 2023 menyatakan bahwa metileugenol diklasifikasikan sebagai senyawa yang “kemungkinan besar dapat menyebabkan kanker pada manusia”. Kesimpulan itu didasarkan pada bukti kuat dari penelitian terhadap hewan percobaan serta mekanisme biologis yang ditemukan dalam sistem penelitian laboratorium.

Selain itu, Program Toksikologi Nasional Amerika Serikat (NTP) dalam laporan tertanggal 21 Desember 2021 juga menyebut bahwa metileugenol “diduga sebagai zat yang dapat menyebabkan kanker pada manusia berdasarkan bukti yang cukup mengenai sifat pemicu kanker dari penelitian pada hewan percobaan”.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan tersebut tidak dapat diartikan bahwa seluruh produk herbal yang mengandung bahan alami tertentu otomatis berbahaya bagi manusia. Risiko kesehatan sangat dipengaruhi oleh kadar senyawa, frekuensi konsumsi, pola penggunaan, serta tingkat paparannya.

0 Komentar