“Abah kalau melatih sangat sabar tapi keras. Tapi kami senang karena itu untuk kemajuan kami,” aku Fajrina dengan jujur.
Kesederhanaan status Sayuti sebagai penjaga sekolah terbukti tidak menjadi draf penghalang untuk mengukir pengabdian abadi bagi dunia olahraga. Dari lapangan tanah yang sederhana dan modal nekat, Abah membuktikan ke publik bahwa prestasi emas bisa lahir dari ketulusan total dan kerja keras tanpa batas. (had)
