BATANG, RADARPEKALONGAN.ID – Pemerintah Kabupaten Batang terus memperkuat berbagai langkah strategis guna menekan ketergantungan terhadap gawai di kalangan anak-anak. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan literasi, penghidupan kembali permainan tradisional, serta penerapan jam belajar yang terstruktur di lingkungan keluarga dan sekolah.
Salah satu program unggulan yang menjadi perhatian adalah gerakan “Sak Minggu Sak Buku” yang digagas oleh Bunda Literasi Batang, Faelasufa Faiz. Program ini mendorong anak-anak untuk membiasakan diri membaca minimal satu buku setiap minggu sebagai upaya membangun budaya literasi sejak dini, sekaligus mengurangi intensitas penggunaan gawai dalam keseharian mereka.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang, Bambang Supriyantoro S, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah meningkatnya ketergantungan anak terhadap gawai, terutama di luar jam sekolah. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tidak hanya bersifat pembatasan, tetapi juga menyediakan alternatif kegiatan yang lebih menarik dan bermanfaat bagi tumbuh kembang anak.
Baca Juga:DPRD Pekalongan Sorot Piutang Daerah Rp68 Miliar, Didominasi Tunggakan PBBProyek KPBU APJ Pintar Rp143 M di Batang Resmi Dilelang, Target 8.100 Titik
“Anak-anak sekarang sangat dekat dengan gadget, jadi tidak bisa hanya dilarang. Harus ada kegiatan pengganti yang membuat mereka tetap aktif, seperti membaca, bermain, dan berinteraksi langsung,” ujar Bambang.
Ia menjelaskan, selain gerakan literasi, Pemkab Batang juga memperkuat penerapan jam belajar di rumah sebagai upaya membangun kedisiplinan dalam pengaturan waktu anak. Jam belajar ini diharapkan menjadi panduan agar anak memiliki waktu khusus untuk belajar dan tidak terus-menerus terpapar gawai di luar kebutuhan pendidikan.
“Jam belajar ini penting agar anak punya batasan waktu yang jelas. Ada waktu untuk belajar, ada waktu untuk bermain, dan ada waktu untuk istirahat tanpa gawai,” jelasnya.
Di sisi lain, pendekatan berbasis budaya juga terus diperkuat melalui Festival Dolanan Anak yang rutin digelar, serta rencana menjadikan permainan tradisional sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar. Permainan seperti gobak sodor, egrang, dan congklak dinilai mampu meningkatkan interaksi sosial, kerja sama, dan aktivitas fisik anak, sekaligus melestarikan warisan budaya lokal yang mulai tergerus oleh zaman.
Bambang menegaskan, kombinasi antara literasi, pelestarian budaya, dan pengaturan waktu belajar menjadi strategi utama Pemkab Batang dalam membangun lingkungan tumbuh kembang anak yang lebih sehat di tengah derasnya arus digital.
