Dalam penanggalan Jawa, beberapa bulan dipercaya membawa pertanda baik bagi pasangan yang menikah, yaitu:
- Jumadilakir.
- Rejeb.
- Ruwah.
- Besar.
Sementara bulan yang sering dianggap kurang baik menurut tradisi Primbon Jawa meliputi:
- Sura.
- Sapar.
- Mulud.
- Bakdamulud.
- Jumadilawal.
- Pasa.
- Sawal.
- Sela.
Kepercayaan ini diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari adat masyarakat Jawa dalam menentukan waktu pelaksanaan pernikahan.
Baca Juga:Harga Emas Antam Hari Ini Rabu 8 Juli 2026 Terbaru! Cek Daftar Lengkap Sebelum Harga BerubahHari Baik Memulai Usaha Dagang Menurut Primbon Jawa, Feng Shui dan Islam! Mana yang Paling Tepat?
Mengapa Perhitungan Hari Baik Masih Dipertahankan?
Bagi sebagian keluarga Jawa, menentukan hari baik bukan sekadar mengikuti mitos, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Selain itu, perhitungan weton dipercaya memberikan ketenangan batin karena pasangan merasa telah mempersiapkan pernikahan dengan mempertimbangkan nilai-nilai budaya yang diwariskan sejak lama.
Meski demikian, hasil Primbon Jawa umumnya dipandang sebagai pedoman tradisional, bukan kepastian mutlak mengenai kehidupan rumah tangga seseorang.
Informasi Penting
- Weton diperoleh dari penjumlahan hari lahir dan hari pasaran Jawa.
- Neptu kedua calon mempelai dijumlahkan untuk mengetahui kategori kecocokan.
- Total neptu juga dapat dibagi tujuh untuk mengetahui makna sisa neptu.
- Bulan Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, dan Besar sering dianggap baik untuk menikah.
- Sura, Sapar, Mulud, Bakdamulud, Jumadilawal, Pasa, Sawal, dan Sela termasuk bulan yang umumnya dihindari dalam tradisi Jawa.
Sebagai bagian dari warisan budaya, Menghitung hari baik untuk menikah masih dipercaya banyak masyarakat Jawa sebagai ikhtiar dalam memilih waktu terbaik untuk memulai kehidupan rumah tangga.
Terlepas dari hasil perhitungan weton, keharmonisan keluarga tetap ditentukan oleh komitmen, komunikasi, saling menghormati, dan kerja sama antara kedua pasangan.
