Batang, RADARPEKALONGAN.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang menggandeng komunitas Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) setempat untuk menggelar pelatihan pemanfaatan Handy Talky (HT) bagi perangkat desa.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades) Batang pada Selasa (21/7/2026) ini bertujuan untuk memperkuat sistem komunikasi darurat di tengah potensi risiko bencana yang mengintai wilayah setempat.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Batang, Wawan Nurdiansyah, menilai bahwa pelatihan ini menjadi langkah strategis mengingat akses komunikasi yang cepat dan akurat merupakan faktor krusial dalam penanganan bencana.
Baca Juga:Pabrik Kemasan Premium Rp 728 Miliar Resmi Beroperasi di KIK Kendal, Serap 800 Tenaga KerjaTabrakan Beruntun di Pegandon Kendal, Pengendara Motor Asal Gubugsari Meninggal Dunia
Menurutnya, sejumlah titik di wilayah Batang, terutama di Kecamatan Bawang dan Reban, kerap mengalami kendala sinyal telekomunikasi karena kontur geografis yang menantang. Dalam situasi darurat, HT dinilai sebagai solusi paling andal untuk tetap terhubung dengan tim penanganan.
Wawan menjelaskan bahwa sasaran pelatihan sengaja diarahkan kepada perangkat desa karena mereka dinilai sebagai ujung tombak yang paling memahami kondisi wilayah masing-masing. Kecepatan mereka dalam menyampaikan informasi awal sangat menentukan respons cepat dari instansi terkait.
“Wilayah yang rawan sulit dijangkau sinyal ada di Kecamatan Bawang dan Reban. Melihat situasi saat ini yang memasuki puncak kemarau, perangkat desa bisa menginformasikan apakah wilayahnya terdampak kekeringan sehingga instansi terkait segera menangani,” ujar Wawan di sela-sela kegiatan pelatihan.
Sementara itu, Pengurus RAPI Batang, Pandu Wicaksono, mengungkapkan bahwa pihaknya memberikan panduan teknis penggunaan HT agar perangkat desa mampu mengoperasikan alat komunikasi tersebut dengan tepat.
Ia menekankan bahwa dalam situasi bencana, jaringan telepon seluler kerap kali terputus. Dengan HT, komunikasi antarpetugas di lapangan dan tim SAR dapat tetap berjalan meskipun berada di wilayah dengan kontur tanah yang tidak rata.
“Ini membantu komunikasi apabila terjadi suatu peristiwa, terutama di wilayah dengan medan sulit. Sinyal telekomunikasi sering kali tidak mampu menembus, maka HT-lah yang menjadi andalan sebagai pendukung komunikasi dengan tim SAR,” terang Pandu.
Dalam pelatihan ini, peserta lebih banyak dilibatkan dalam simulasi langsung mengenai tata cara penggunaan HT yang benar. Pandu menambahkan bahwa frekuensi yang digunakan telah diatur sesuai dengan ketentuan RAPI dan Pemerintah Kabupaten Batang.
