KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID — Memasuki musim panen tembakau, daun-daun bagian bawah yang kerap dianggap limbah justru berubah menjadi komoditas bernilai tinggi. Masyarakat menyebutnya dendeng tembakau, yaitu daun kering hasil olahan khusus yang kini diburu para pengepul dengan harga hingga Rp15.000 per kilogram.
Di Dukuh Tapak Barat, Desa Kedunggading, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal, para petani memanfaatkan momen ini untuk menambah pendapatan. Salah satunya Suwanto (52), yang bersama istrinya, Juminah, mengolah ribuan helai daun tembakau bawah menjadi dendeng berkualitas.
Proses pengolahan dendeng, menurut Suwanto, menuntut kesabaran ekstra. Daun tembakau yang telah dipetik harus dijemur di bawah sinar matahari selama kurang lebih tiga hari hingga benar-benar kering, termasuk bagian pelepahnya.
Baca Juga:Kebakaran Diduga Korsleting Listrik, Rumah Warga Sukorejo Ludes TerbakarFKIP Unikal Desain Ulang Kurikulum Berbasis AI, Gandeng Mitra ASEAN-Inggris
“Tidak bisa terburu-buru. Harus sampai benar-benar kering total, baik daun maupun pelepahnya. Kalau tidak, kualitasnya akan turun,” ujar Suwanto saat ditemui di sela-sela aktivitasnya, Senin (3/8/2026).
Ia menambahkan, kualitas dendeng sangat ditentukan oleh keutuhan fisik daun. Daun yang masih utuh dan tidak sobek memiliki nilai jual lebih tinggi. Karena itu, saat penyimpanan dalam karung, petani biasanya menjaga tingkat kelembapan agar daun tidak rapuh dan hancur.
“Dendeng yang bagus itu masih utuh bentuknya. Kami simpan dengan kondisi lembap supaya tidak mudah patah. Kalau terlalu kering, bisa hancur dan harganya turun,” jelasnya.
Dari lahan tembakau seluas setengah hektare, Suwanto mampu memproduksi sekitar 1,5 kuintal dendeng siap jual dalam satu musim panen. Ia mengungkapkan, produksi dendeng hanya dilakukan pada awal musim karena berasal dari daun bagian bawah yang dipanen pertama kali.
Sementara itu, Sakroni (45), salah seorang pengepul dendeng asal Ringinarum, mengaku rutin mendatangi desa-desa untuk menyerap hasil olahan petani. Ia membanderol harga Rp15.000 per kilogram, namun hanya membeli dendeng dengan kriteria khusus.
“Kami selektif. Daun harus utuh, tidak sobek, dan kering merata. Itu standar utama karena akan mempengaruhi kualitas rokok yang dihasilkan,” kata Sakroni.
Setelah terkumpul, dendeng tembakau dikirim ke sejumlah pabrik rokok skala besar maupun industri rumahan. Daun kering ini dimanfaatkan sebagai bahan baku utama maupun campuran (blending) untuk rokok kretek dan cerutu.
