Soal tradisi warga desa yang menggelar makan-makan atau syukuran setelah calon dinyatakan terpilih, Abdul Munir membedakannya dengan praktik politik uang.
“Yang namanya politik uang itu kan prinsipnya dilarang. Silakan itu. Bagaimana demokrasi di desa itu seperti apa. Malam hari misal makan-makan, itu kan baik, kalau money politic tentu tidak baik. Tapi kalau nanti setelah jadi syukuran, itu mungkin,” sambungnya.
Di akhir pernyataannya, Abdul Munir mengajak seluruh pihak yang terlibat dalam Pilkades serentak mendatang untuk menjaga proses demokrasi agar benar-benar menghasilkan pemimpin yang dipercaya masyarakat. “Mari 34 desa ini kita laksanakan dengan demokrasi pesta rakyat, memilih pemimpin yang baik, pemimpin yang akan mengatur desanya,” pungkasnya. (yon)
