- Angka 4: Sering dihindari karena pelafalannya, sì, mirip dengan sǐ yang berarti “mati”.
- Angka 13: Memiliki makna yang tidak konsisten. Sebagian orang menghubungkannya dengan kesialan dari budaya Barat atau angka 4, sedangkan penafsiran lain menganggapnya netral atau positif.
- Angka 8: Sangat disukai oleh banyak orang Tionghoa karena pelafalannya, bā, menyerupai kata yang berkaitan dengan kemakmuran atau kekayaan.
Perbedaan ini memperlihatkan bahwa kepercayaan terhadap angka tidak hanya berkaitan dengan nilai numeriknya.
Bunyi kata, asosiasi budaya, dan penafsiran simbolis turut membentuk pandangan seseorang terhadap angka tertentu.
Angka 4 memiliki hubungan bunyi yang kuat dengan kata bermakna negatif dalam bahasa Mandarin.
Baca Juga:Hari Baik Nikah dalam Islam Menurut Al-Quran dan Hadis, Lengkap dengan Syarat Sah Menikah!Hari Baik Menjual Ternak Menurut Tanggalan Umum agar Cepat Laku! Kamu Wajib Tahu
Sementara itu, angka 13 tidak mempunyai hubungan bunyi negatif yang sama kuat dan lebih banyak dikaitkan dengan pengaruh budaya Barat atau penjumlahan angka.
Di sisi lain, angka 8 menjadi contoh bahwa suatu angka dapat disukai karena memiliki asosiasi positif dengan kemakmuran. Hal ini memperlihatkan beragamnya makna angka dalam kebudayaan Tionghoa.
Jadi, kenapa orang China menghindari angka 13? Sebagian orang menghindarinya karena pengaruh kepercayaan Barat, kebiasaan gedung internasional, atau anggapan bahwa 1 + 3 = 4 yang diasosiasikan dengan kematian dalam budaya Tionghoa.
Namun, angka 13 bukan tabu tradisional utama masyarakat Tionghoa. Angka 4 justru lebih dikenal sebagai angka yang dihindari karena kemiripan bunyinya dengan kata “mati”, sedangkan angka 8 banyak disukai karena berkaitan dengan kemakmuran.
Pada akhirnya, pandangan terhadap angka 13 tidak seragam dan dapat berbeda sesuai dengan kepercayaan serta latar belakang budaya masing-masing orang.
