RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Lonjakan harga bahan baku kedelai impor yang kini menembus kisaran Rp 11.000 per kilogram membuat para pelaku usaha tahu dan tempe di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, semakin terjepit. Kondisi ini tidak hanya memangkas margin keuntungan, tetapi juga memaksa perajin memutar otak menyiasati proses produksi agar terhindar dari gulung tikar.
Situasi krisis bahan baku ini dibenarkan oleh Primer Koperasi Produsen Tahu dan Tempe (Primkopti) Harum Kendal. Lonjakan biaya produksi diyakini berpotensi besar mengganggu stabilitas usaha para anggota koperasi, sekaligus mengancam ketersediaan dan memicu kenaikan harga jual di pasaran.
Ketua Primkopti Harum Kendal, Rifa’i, mengungkapkan bahwa meroketnya harga kedelai dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik ini menyebabkan harga minyak dunia naik, yang berimbas langsung pada melambungnya biaya logistik dan distribusi impor kedelai.
Baca Juga:Tingkatkan Literasi Digital, Ratusan Pelajar SMA Pekalongan Digembleng Pelatihan AIPecahkan Rekor MURI, Seribu Gen Z Batang Tarikan Tari Babalu dan Kumpulkan Minyak Jelantah
“Ketegangan di Timur Tengah memengaruhi biaya transportasi dan asuransi. Kapal menjadi enggan melintasi jalur tersebut. Ongkos angkut naik sekitar 40 persen, sementara biaya asuransi hampir 100 persen,” ujar Rifa’i saat memberikan keterangan, Senin (13/4/2026).
Beban Ganda Perajin Tahu Tempe
Rifa’i memaparkan, pergerakan harga kedelai sejatinya sudah mulai terasa sejak awal tahun dan mencapai titik tertingginya menjelang momen Lebaran. Pada Januari lalu, harga kedelai masih bertengger di angka Rp 9.200 per kilogram, sebelum akhirnya melesat menjadi Rp 11.000 per kilogram.
“Kenaikan ini berdampak langsung pada pelaku usaha tahu dan tempe di Indonesia. Apalagi kedelai sebagian besar masih impor dari Amerika Serikat dan sebagian kecil dari Amerika Latin,” jelas Rifa’i.
Situasi tahun ini dinilai jauh lebih berat dibandingkan krisis-krisis sebelumnya. Pasalnya, kenaikan harga kedelai saat ini terjadi secara bersamaan dengan meroketnya harga bahan pendukung lain, seperti minyak goreng dan plastik kemasan, yang lonjakannya mencapai 100 persen.
“Kalau dulu kenaikan kedelai tidak dibarengi bahan pendukung. Sekarang justru semuanya naik, ini yang sangat memberatkan,” tegasnya.
Siasat Mengurangi Ukuran
Dampak dari tekanan beruntun ini sangat dirasakan oleh para perajin di akar rumput. Ibnu Salim, salah seorang perajin tahu dan tempe di Desa Jatirejo, Kecamatan Ngampel, mengaku dihadapkan pada situasi dilematis. Ketimbang menaikkan harga jual yang berisiko membuat pelanggan kabur, ia memilih memangkas volume produk.
