Kisah Haru Perjuangan Orang Tua Dampingi Siswa SLB Tampil di FLS3N Cabdin 12 Batang

Kisah Haru Perjuangan Orang Tua Dampingi Siswa SLB Tampil di FLS3N Cabdin 12 Batang
NOVIA ROCHMAWATI TAMPILKAN - Penampilan Peserta FLS3N Cabdin 12 di SLB Negeri Batang.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Cabang Dinas (Cabdin) Wilayah 12 di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Batang menyisakan cerita inspiratif. Di balik meriahnya kostum dan penampilan para peserta di atas panggung, terdapat perjuangan tanpa lelah dari para orang tua yang setia mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus tersebut.

Salah satu kisah datang dari Sumitri, warga asal Pemalang. Ia rela menempuh perjalanan lintas daerah demi memastikan putrinya tampil percaya diri di ajang FLS3N tingkat Cabdin 12 ini. Raut wajahnya memancarkan kebanggaan, bukan karena ambisi meraih piala, melainkan karena melihat keberanian sang anak tampil di depan khalayak.

“Senang sekali, ini ajang yang bagus untuk mengasah talenta anak-anak disabilitas,” kata Sumitri saat ditemui di lokasi perlombaan, Selasa, 14 April 2026.

Baca Juga:Tragis! Senggol Penyapu Jalan, Karyawan KIK Tewas Terlindas Truk di Pantura KendalJangan Dipasrahkan Selamanya! Dinsos Pekalongan Minta Keluarga Berperan Aktif Pulihkan ODGJ, Semua Gratis

Bagi Sumitri, proses menuju panggung jauh lebih berharga daripada sekadar hasil akhir. Mengingat putrinya merupakan penyandang Down Syndrome, ia harus memutar otak untuk menyesuaikan pola latihan dengan kondisi fisik dan psikologis sang anak.

“Tidak bisa dipaksakan terus, karena anak-anak seperti ini tergantung mood juga,” ujarnya membeberkan tantangan selama masa persiapan.

Setiap Perkembangan adalah Pencapaian

Meskipun durasi latihan terbilang sangat singkat, yakni sekitar satu minggu, Sumitri tetap setia mendampingi putrinya dengan penuh kesabaran. Baginya, setiap perkembangan sekecil apa pun merupakan sebuah pencapaian yang patut disyukuri.

“Dilatih langsung bisa, alhamdulillah cukup cepat menangkap,” ungkap Sumitri bangga.

Ia secara tegas menyatakan tidak pernah membebani anaknya dengan target juara. Prioritas utamanya adalah memastikan sang buah hati merasa gembira dan memiliki ruang yang inklusif untuk mengembangkan diri.

“Yang penting anaknya senang, punya pengalaman, dan ada wadah untuk terus belajar,” tuturnya menambahkan.

Pemandangan serupa juga ditunjukkan oleh para orang tua peserta lainnya. Mereka rela mengorbankan waktu dan tenaga guna memastikan anak-anak mereka siap beraksi. Dedikasi para orang tua ini dipadukan dengan bimbingan intensif dari para guru, menciptakan kolaborasi yang kokoh agar anak-anak disabilitas mampu mengekspresikan diri secara optimal.

0 Komentar