RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan terus menggenjot kualitas layanan penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Rumah Perlindungan Sosial Berbasis Masyarakat (RPSBM). Namun, ada pesan menohok bagi pihak keluarga pasien!
Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos-P2KB) Kota Pekalongan secara tegas meminta keluarga agar tak lepas tangan. Keluarga diwajibkan ikut andil dan berperan aktif dalam mendukung proses pemulihan, serta menjemput kembali pasien jika kondisinya sudah membaik.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos-P2KB Kota Pekalongan, Wildan Zuhad, blak-blakan mengingatkan bahwa RPSBM bukanlah tempat penitipan permanen. Keberhasilan penyembuhan mental sangat bergantung pada pelukan hangat dan penerimaan dari keluarga.
Baca Juga:Tepis Isu PHK Massal Imbas Efisiensi Anggaran, BKPSDM Kendal Pastikan Nasib PPPK AmanGebrakan! Wali Kota Pekalongan Teken MoU, Sampah Bakal Disulap Jadi Listrik Lewat Proyek PSEL
“Jika kondisi mereka sudah membaik setelah mendapatkan penanganan, maka keluarga diharapkan bisa menerima dan memberikan dukungan. Jangan sampai mereka dipasrahkan selamanya di RPSBM,” tegas Wildan memberikan peringatan.
Semua Layanan Dijamin Gratis, Pasien Dilatih Mandiri
Lebih lanjut, Wildan memastikan bahwa seluruh fasilitas dan layanan pengobatan di RPSBM ditanggung penuh oleh pemerintah alias 100 persen gratis! Hal ini merupakan wujud nyata komitmen Pemkot Pekalongan dalam menghadirkan pelayanan sosial yang inklusif dan merata bagi warganya.
Tak cuma diberi penanganan medis, para klien di RPSBM juga digembleng lewat serangkaian program pemulihan menyeluruh. Mulai dari siraman rohani (pengajian) hasil kerja sama dengan Kementerian Agama, olahraga rutin, hingga kegiatan kerja bakti.
Terkait agenda kerja bakti, Wildan buru-buru meluruskan agar tak ada narasi keliru di masyarakat. Ia menegaskan kegiatan bersih-bersih itu murni untuk terapi mental, bukan bentuk eksploitasi tenaga ODGJ.
“Kerja bakti ini untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Ini juga bagian dari pembentukan tanggung jawab dan kemandirian,” bebernya memberi penjelasan.
Lewat pendekatan sosial, fisik, dan spiritual yang terpadu ini, pemerintah menaruh harapan besar agar para pasien ODGJ bisa kembali sehat, membaur dengan keluarganya, dan tak lagi menjadi korban stigma negatif di tengah masyarakat. (nul)
