KAJEN, RADARPEKALONGAN.ID – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Tengah diminta mengutamakan penyerapan telur hasil produksi peternak lokal guna mendukung kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini menjadi salah satu poin utama dalam Rapat Koordinasi Tata Kelola Penyelenggaraan dan Rantai Pasok Bahan Baku Program MBG yang digelar di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Jumat (12/6/2026).
Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Pekalongan, Sukirman, yang turut hadir dalam rapat tersebut mengatakan bahwa evaluasi Program MBG kali ini difokuskan pada penguatan rantai pasok bahan baku. Pemerintah provinsi mendorong keterlibatan peternak telur, petani, nelayan, dan pelaku usaha pangan lokal dalam memenuhi kebutuhan program tersebut.
“Ya, kita kembali mengikuti rapat evaluasi tentang Program MBG. Hari ini fokusnya adalah penekanan tentang rantai pasokan bahan baku yang memang menurut catatan kita sejak lama belum optimal dalam melibatkan petani, peternak, termasuk terkait harga dan penentuan harga,” ujar Sukirman.
Baca Juga:Pekalongan Raih Opini WTP ke-11 Berturut-turut dari BPK, Terendah Se-JatengHaflah Akhirussanah di Gedung DPRD Kendal, 64 Siswa SD Muhammadiyah Purin Dilepas
Menurutnya, salah satu persoalan yang mengemuka adalah ketidaksesuaian harga telur dari peternak lokal yang dinilai memberatkan sejumlah pihak dalam rantai distribusi. Rapat koordinasi ini bertujuan menyinkronkan harga agar peternak lokal bisa terakomodasi dalam rantai pasok, khususnya untuk komoditas telur.
“Kalau tadi lebih kepada telur yang berasal dari peternak, yang harganya memang tidak sesuai dan itu memberatkan para pedagang. Maka hari ini mencoba disinkronkan sehingga menjadi solusi terbaik agar peternak kita juga terakomodir di dalam rantai pasokan bahan baku, khususnya telur,” jelasnya.
Sukirman menambahkan, persoalan serupa tidak hanya terjadi di Kabupaten Pekalongan, melainkan menjadi perhatian di seluruh Jawa Tengah sebagai bagian dari evaluasi tingkat provinsi terhadap aspirasi asosiasi peternak telur.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menjelaskan bahwa rapat digelar sebagai tindak lanjut atas keluhan para peternak petelur di Jawa Tengah yang merasa belum mendapatkan manfaat optimal dari program MBG.
Menurutnya, produksi telur di Jawa Tengah sangat besar, namun tingkat penyerapannya untuk kebutuhan MBG masih sangat rendah. Di sisi lain, harga telur di pasaran juga berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah.
