Awal 2026 Sudah 3 Ibu Meninggal, Tim Posyandu Pekalongan Gaspol Program Kencan Bumil Tekan AKI

Awal 2026 Sudah 3 Ibu Meninggal, Tim Posyandu Pekalongan Gaspol Program Kencan Bumil Tekan AKI
ISTIMEWA KOORDINASI - Tim Pembina Posyandu Kota Pekalongan menggelar pertemuan koordinasi awal tahun 2026, Kamis (16/4/2026).
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Fakta mengejutkan sekaligus menjadi alarm keras bagi warga Kota Pekalongan! Baru memasuki bulan April pada awal tahun 2026 ini, tercatat sudah ada tiga nyawa ibu yang melayang akibat kasus kematian ibu saat kehamilan dan persalinan (AKI).

Tak mau kecolongan lebih jauh, Tim Pembina Posyandu Kota Pekalongan langsung ‘gaspol’ merapatkan barisan. Mereka menggelar pertemuan koordinasi lintas sektor yang krusial bersama jajaran kesehatan di Hotel Nirwana, Kamis (16/4/2026), guna memperkuat deteksi dini risiko kehamilan dan menekan angka stunting.

Ketua Tim Pembina Posyandu Kota Pekalongan, Inggit Soraya, secara blak-blakan menyebut catatan kematian ibu di awal tahun ini sangat memprihatinkan. Ia mewanti-wanti keras agar tidak ada lagi tambahan kasus kematian ibu maupun bayi (AKB) hingga penghujung tahun nanti.

Baca Juga:Modernisasi Pertanian Kendal: Petani Gondoharum Tinggalkan Krombong, Beralih ke Gerobak AngkongAsyik Nongkrong Saat Jam Belajar, Puluhan Pelajar SMA Terjaring Razia Satpol PP di Petungkriyono

“Kita berupaya menekan angka kematian ibu dan bayi. Harapannya tidak ada lagi tambahan kasus. Untuk itu, koordinasi dan penguatan peran Tim Pembina Posyandu harus terus ditingkatkan,” tegas Inggit memberikan arahan.

Luncurkan Jurus ‘Kencan Bumil’

Sebagai senjata pamungkas, Inggit mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tengah mengoptimalkan jurus jitu bernama program Kencan Bumil (Kenali dan Cek Kesehatan Ibu Hamil). Program ini diklaim ampuh untuk menyadarkan para calon ibu agar rajin mendeteksi risiko sedini mungkin.

Tak cuma mengurus ibu hamil, Inggit juga menyoroti kasus gizi buruk atau stunting pada anak yang saat ini masih bertengger di angka 19,3 persen. Angka ini mutlak harus terus ditekan.

“Penanganan stunting membutuhkan sinergi lintas sektor. Kita tidak bisa berjalan sendiri, perlu kolaborasi dengan berbagai bidang agar hasilnya lebih optimal,” tambahnya.

Keroyokan Lintas Dinas Tekan Stunting

Sementara itu, Sekretaris Tim Pembina Posyandu, Puji Winarti, membeberkan bahwa pertemuan ini menjadi titik tolak untuk menyatukan kekuatan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Mulai dari Dinas Kesehatan, Dinsos-P2KB, DKP, Dinperpa, hingga DPMMPPA wajib ‘turun gunung’ mengawal program hingga level puskesmas dan kelurahan.

“Dengan kolaborasi ini, kita ingin memastikan seluruh kegiatan dapat dimonitor dan diawasi bersama, sehingga target indikator kesehatan bisa tercapai,” beber Puji antusias.

0 Komentar