Modernisasi Pertanian Kendal: Petani Gondoharum Tinggalkan Krombong, Beralih ke Gerobak Angkong

Modernisasi Pertanian Kendal: Petani Gondoharum Tinggalkan Krombong, Beralih ke Gerobak Angkong
ABDUL GHOFUR PERKEMBANGAN PERTANIAN - Inilah potret transformasi pertanian dari era krombong di bahu menuju angkong di tangan, salah satu cara adaptif petani merespon perkembangan zaman.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Transformasi sektor pertanian tidak hanya terjadi pada penggunaan bibit unggul atau pupuk modern, tetapi juga terlihat pada metode pengangkutan hasil panen. Di Desa Gondoharum, Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal, para petani kini secara bertahap mulai meninggalkan krombong dan beralih menggunakan gerobak angkong (kereta dorong).

Perubahan preferensi alat angkut ini menjadi potret nyata pergeseran budaya sekaligus modernisasi di level akar rumput. Di masa lalu, krombong—sejenis keranjang anyaman bambu yang identik dipikul di bahu—merupakan primadona untuk mengangkut hasil bumi. Kini, pemandangan tersebut semakin tergeser oleh kepraktisan teknologi dorong beroda.

Kepala Desa Gondoharum, Miserin, memaparkan bahwa transisi mekanis ini bukan sekadar pergantian alat fisik, melainkan cerminan adaptasi masyarakat tani terhadap tuntutan zaman dan target produktivitas yang semakin tinggi.

Baca Juga:Asyik Nongkrong Saat Jam Belajar, Puluhan Pelajar SMA Terjaring Razia Satpol PP di PetungkriyonoMenggemaskan! Puluhan Anak TK Serbu Guest House, Bunda PAUD Pekalongan Ajarkan Adab Bertamu

“Dulu krombong menjadi bagian dari budaya dan kebersamaan warga. Sekarang, petani mulai beralih ke angkong karena lebih cepat dan mampu mengangkut hasil panen lebih banyak,” kata Miserin memberikan keterangan, Kamis, 16 April 2026.

Dari Simbol Sosial Menjadi Tuntutan Efisiensi

Secara historis, krombong tidak sebatas sarana angkut semata, melainkan simbol kearifan lokal. Proses pengangkutan hasil panen menggunakan pikulan kerap kali menciptakan ruang interaksi, memupuk kebersamaan, dan mempererat kohesi sosial antarwarga tani di pematang sawah.

Namun, seiring dengan meningkatnya kebutuhan efisiensi dan tenaga, krombong mulai dinilai kurang relevan. Gerobak angkong lantas hadir sebagai solusi taktis. Dengan kapasitas muatan yang jauh lebih masif dan sistem dorong yang ringan, beban fisik para pekerja sawah dapat direduksi secara signifikan.

Peralihan kultur kerja ini diakui sangat membantu produktivitas harian. Salah seorang petani Desa Gondoharum, Suroto, menyebut penggunaan gerobak sorong roda satu itu terbukti memangkas waktu kerja mereka.

“Kalau pakai angkong, kerja jadi lebih ringan dan cepat. Hasil panen bisa langsung diangkut banyak sekaligus,” tutur Suroto menceritakan pengalamannya.

Tantangan Merawat Esensi Gotong Royong

Di sisi lain, pergeseran operasional ini perlahan turut membawa dampak sosial. Proses kerja yang kini lebih individualistik karena bertumpu pada alat dorong masing-masing membuat intensitas interaksi beramai-ramai mulai menyusut. Kegiatan yang dahulu diwarnai canda tawa memikul beban bersama, kini lebih terfokus pada akselerasi penyelesaian pekerjaan.

0 Komentar