Ikhtiar ini perlahan mulai membuahkan hasil. Keterlibatan generasi muda yang melek teknologi kini turut mendongkrak penjualan Batik Rifa’iyah melalui skema pemasaran digital.
“Sekarang kami juga ikut bootcamp dari Bank Indonesia. Kalau lolos kurasi, rencananya akan tampil di pameran Karya Kreatif Indonesia di Jakarta,” ujarnya.
Sinergi antara pemerintah daerah, komunitas literasi, dan pengrajin diharapkan mampu mentransformasi Batik Rifa’iyah. Tidak sekadar bertahan sebagai instrumen budaya dan medium dakwah, kerajinan ini diproyeksikan bangkit menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang signifikan bagi masyarakat Batang. (nov)
