Krisis Regenerasi, Batik Rifa'iyah Batang Dituntut Inovasi Bikin Produk Harga Terjangkau

Krisis Regenerasi, Batik Rifa\'iyah Batang Dituntut Inovasi Bikin Produk Harga Terjangkau
NOVIA ROCHMAWATI WORKSHOP - Pegiat Literasi Batang saat menggelar Workshop Sejarah dan Kebudayaan tentang Eksistensi Batik Rifaiyah di Joglomberan Batang.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Nasib kerajinan warisan budaya Batik Rifa’iyah di Kabupaten Batang kini berada di persimpangan. Di balik tingginya nilai historis yang dimiliki, eksistensi karya seni ini terancam oleh krisis regenerasi pengrajin dan stagnasi minat pasar.

Persoalan krusial tersebut mengemuka dalam Workshop Sejarah dan Budaya bertajuk “Menyelamatkan Eksistensi Batik Rifa’iyah” yang diinisiasi oleh Komunitas Pegiat Literasi Batang di Kedai Joglo Mberan, Rabu, 29 April 2026.

Bunda Literasi Kabupaten Batang, Faelasufa Faiz, menyatakan bahwa inovasi dan adaptasi pasar menjadi kunci utama agar kerajinan ini tidak punah dimakan zaman. Menurutnya, kelas produk premium seperti batik tulis bolak-balik yang dibanderol Rp 3,5 juta hingga Rp 5 juta memang harus dipertahankan sebagai identitas mahakarya. Namun, pengrajin didorong untuk mulai menggarap segmen pasar yang lebih luas dan ramah di kantong, khususnya bagi generasi muda.

Baca Juga:Peringati May Day 2026, Buruh Kendal Siapkan Aksi Tuntut Hapus Outsourcing dan UMSK 2027Waspada Maling! Polres Pekalongan Tingkatkan Patroli Malam di Titik Rawan Kriminalitas

“Kalau ingin Batik Rifa’iyah bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun, kita harus adaptif. Harus ada produk yang lebih terjangkau agar anak muda tertarik,” kata Faelasufa saat memberikan pandangannya.

Sebagai solusi, ia menyarankan agar produsen menyiasati biaya produksi melalui penyesuaian desain. Misalnya, dengan merancang motif yang lebih sederhana atau memproduksi versi kain yang tidak bolak-balik. Faelasufa juga mendorong adanya kolaborasi strategis dengan desainer fesyen nasional untuk meracik produk ready-to-wear (siap pakai) bergaya urban yang tengah digandrungi masyarakat modern.

Krisis Tenaga Penglowong

Di sisi lain, pengrajin Batik Rifa’iyah, Miftakhutin, membeberkan ancaman nyata terkait krisis sumber daya manusia. Ia mengungkapkan bahwa tenaga penglowong atau pembuat pola dasar batik saat ini jumlahnya sangat menyusut dan hanya dalam hitungan jari. Di sentra kerajinan Desa Kalipucang Wetan hanya tersisa tiga orang, sedangkan di kawasan Mberan tinggal dua orang.

“Tantangan utama memang regenerasi. Anak muda belum banyak yang tertarik menjadikan membatik sebagai profesi,” tuturnya mengungkapkan realitas di lapangan.

Merespons krisis tersebut, Miftakhutin berinisiatif membuka kelas pelatihan membatik gratis secara mandiri. Saban tiga bulan, ia melatih lima peserta baru sebagai langkah konkret mencetak generasi penerus.

0 Komentar