RADARPEKALONGAN.ID, KAJEN – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan atensi khusus terhadap eskalasi kasus perundungan (bullying), kekerasan fisik, serta kejahatan seksual yang melanda wilayahnya. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyatakan keprihatinan mendalam atas maraknya fenomena tersebut, yang kini dilaporkan banyak menyasar klaster remaja di wilayah Kabupaten dan Kota Pekalongan.
Menurut Taj Yasin, dampak dari rentetan tindak kekerasan ini tidak sekadar menciptakan disrupsi sosial di tingkat akar rumput, melainkan telah memicu anomali gangguan psikologis yang sangat serius pada struktur mental anak-anak dan generasi muda.
Pernyataan tersebut disampaikan pria yang akrab disapa Gus Yasin ini di sela-sela agenda bakti sosial pemeriksaan kesehatan gratis. Kegiatan itu digelar atas kolaborasi Santri Gayeng Nusantara Pekalongan, RSUD Kajen, dan Pemerintah Desa Paninggaran di Balai Desa Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Sabtu, 23 Mei 2026.
Baca Juga:PMK Masih Mengintai di Kendal, Peternak Resah Sebut Varian Baru Lebih Ganas Bisa Bikin Sapi Mati Lima HariGenjot Produksi Getah Pinus, Perhutani KPH Pekalongan Timur Perkuat Sinergi dengan Penyadap di Doro
“Nah, permasalahan lain, ternyata Bapak, Ibu, mohon maaf, salah satunya itu Pekalongan dan Kota Pekalongan, itu ada permasalahan yang lain yang tadi disampaikan. Sebab kekerasan seksual, kekerasan fisik, lalu permasalahan-permasalahan bullying di tengah-tengah masyarakat, di tengah-tengah pendidikan, di tengah-tengah kelompok-kelompok yang ada di Jawa Tengah termasuk di Kabupaten Pekalongan, ini berimbas kepada permasalahan psikologis,” ujar Taj Yasin.
Dampak Fatal Psikis: Depresi hingga Kasus Bunuh Diri
Gus Yasin menguraikan, dampak destruktif dari sisi psikologis yang dialami para korban saat ini sudah berada pada tahapan yang sangat mengkhawatirkan. Tekanan mental tersebut mengonstruksi perilaku isolasi diri, depresi akut, ketakutan untuk mengakses ruang publik, hingga memicu fatalitas berupa tindakan mengakhiri hidup.
“Depresi, lalu tidak berani keluar rumah, bahkan mohon maaf, menyebabkan kematian karena bunuh diri, ini juga tinggi,” kata Taj Yasin menegaskan realitas kelam di lapangan.
Merespons kedaruratan kesehatan mental tersebut, Pemprov Jawa Tengah mengoptimalkan program intervensi bertajuk “Speling”. Melalui program ini, otoritas menerjunkan tim psikolog dan psikiater klinis secara berkala untuk melakukan skrining serta deteksi dini ke seluruh satuan pendidikan.
“Nah, ini juga salah satunya ada di program Speling. Kita datangkan psikiater, psikolog, kita datangkan untuk mendeteksi dini apakah anak-anak itu kena permasalahan bullying,” tutur Gus Yasin.
