PMK Masih Mengintai di Kendal, Peternak Resah Sebut Varian Baru Lebih Ganas Bisa Bikin Sapi Mati Lima Hari

PMK Masih Mengintai di Kendal, Peternak Resah Sebut Varian Baru Lebih Ganas Bisa Bikin Sapi Mati Lima Hari
ABDUL GHOFUR WAS-WAS - Peternak sapi di Desa Margorejo, Kendal, masih waswas terhadap ancaman PMK meski vaksinasi dilakukan. Mereka memperketat perawatan dan menjaga kebersihan kandang, Minggu (24/5/2026).
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Ancaman penularan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak dilaporkan masih membayangi para pedagang dan peternak sapi di wilayah Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Kendati otoritas terkait terus mengintensifkan program vaksinasi massal secara gratis, keresahan di tingkat peternak belum sepenuhnya mereda menyusul adanya laporan mortalitas ternak akibat virus tersebut di sejumlah kawasan.

Seorang penjaga kandang komunal di Desa Margorejo, Kecamatan Cepiring, Muhammad Kholidul Rohman, mengonfirmasi bahwa seluruh populasi sapi yang berada di bawah pengawasannya sebenarnya telah menerima stimulan vaksinasi PMK dosis pertama dari petugas kesehatan hewan setempat.

“Semua sapi di sini sudah divaksin. Petugas datang langsung ke kandang,” ujar Kholidul saat ditemui di lokasi peternakan, Minggu (24/5/2026).

Baca Juga:Genjot Produksi Getah Pinus, Perhutani KPH Pekalongan Timur Perkuat Sinergi dengan Penyadap di DoroMertua Bawa Kabur Balita 13 Bulan Akibat Cekcok, Tangis Ibu Muda Siwalan Pecah Saat Mengadu ke Polsek Sragi

Ancaman Varian Lebih Ganas dan Upaya Alternatif

Meski intervensi medis sudah berjalan, Kholidul menilai karakteristik sebaran klinis PMK pada periode tahun ini menunjukkan indikasi yang lebih mengkhawatirkan dibandingkan fase epidemiologi sebelumnya. Beberapa peternak di sekitarnya terpaksa menelan kerugian finansial akibat durasi pembusukan gejala yang berjalan sangat cepat hingga memicu kematian dini pada sapi potong.

“Sekarang lebih ganas. Ada sapi yang baru sakit lima sampai tujuh hari sudah tidak kuat lalu mati,” kata Kholidul memperinci fatalitas serangan virus tersebut.

Kondisi tersebut memaksa sejumlah peternak mengambil keputusan mitigasi darurat berupa potong paksa dini (emergency slaughter) guna menyelamatkan nilai ekonomis ternak yang sisa. Di samping itu, guna melapis proteksi imun pascavaksinasi, para peternak mengombinasikannya dengan pemberian asupan nutrisi tradisional berbasis biofarmaka secara berkala.

“Kami rutin kasih jamu dari kunyit, jahe, telur, dan gula merah. Seminggu tiga kali,” ucapnya menjelaskan manajemen pakan mandiri yang diterapkan.

Respons Otoritas dan Manajemen Isolasi Ternak

Merespons dinamika di tingkat tapak, Plt Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal, drh. Septiana Wulandari, menegaskan bahwa penanggulangan taktis PMK telah menjadi prioritas kerja yang digulirkan secara simultan sejak awal tahun anggaran.

0 Komentar