RADARPEKALONGAN.ID, SIWALAN – Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan drama konflik keluarga yang nyaris berujung pilu. Lantaran didera rasa cemas dan ketakutan yang luar biasa, seorang ibu muda berinisial KA, warga Tanjungsari, Kecamatan Siwalan, Pekalongan, nekat mendatangi Mapolsek Sragi. Sambil berurai air mata, ia mengadu karena anak balitanya yang masih berusia 13 bulan mendadak dibawa kabur oleh pihak keluarga sang suami.
Respons cepat tanpa bertele-tele langsung ditunjukkan oleh aparat kepolisian. Begitu menerima laporan darurat dari ibu muda yang datang didampingi saudaranya tersebut, petugas piket jaga Polsek Sragi langsung tancap gas menyalakan sirene mobil dinas untuk mengantar korban menuju lokasi persembunyian sang anak.
Polisi bergerak melakukan penyekatan dan berkoordinasi kilat dengan Bhabinkamtibmas setempat untuk menggeruduk rumah mertua pelapor yang berada di Desa Waru, Kecamatan Wiradesa, Pekalongan.
Baca Juga:Target Eliminasi 2030, Dinkes Batang Temukan 451 Kasus TBC dan Gencarkan Skrining Jemput BolaBerawal dari Penemuan Bayi di Ringinarum, Polres Kendal Tangkap Ayah yang Tega Setubuhi Anak Kandung
Usut punya usut, KA terpaksa berjuang sendirian di darat karena suaminya yang berprofesi sebagai nelayan saat ini sedang pergi melaut ke tengah samudra luas dan sama sekali belum bisa dihubungi pihak keluarga.
Mediasi Alot Dua Jam, Polisi Kepung Rumah Mertua
Proses eksekusi dan mediasi di dalam rumah mertua tersebut sempat berjalan sangat tegang dan alot. Adu mulut dan saling klaim hak asuh anak membuat musyawarah mufakat berjalan dramatis hingga memakan waktu lebih dari dua jam.
Namun, berkat ketegasan dan kesabaran petugas di lapangan, benteng ego sang kakek akhirnya runtuh. Balita malang tersebut berhasil dievakuasi dan kembali dipeluk erat oleh ibu kandungnya dalam kondisi selamat tanpa kurang suatu apa pun.
Kapolsek Sragi, AKP Turkhan, membenarkan adanya insiden perebutan anak tersebut. Ia menegaskan bahwa jajarannya sengaja menerjunkan tim khusus dengan mengedepankan pendekatan humanis serta hati yang dingin agar tidak memicu konflik fisik yang lebih anarkis.
“Permasalahan keluarga seperti ini harus diselesaikan dengan kepala dingin dan musyawarah. Kami hadir untuk membantu mencarikan jalan terbaik agar tidak terjadi konflik berkepanjangan, terlebih yang menjadi perhatian utama adalah keselamatan dan kondisi psikologis anak,” tegas AKP Turkhan saat dikonfirmasi, Jumat (22/5/2026).
