Mahasiswa Profesi Apoteker Unikal Edukasi 'Silent Killer' di Rutan Pekalongan, Cegah Penyakit Degeneratif

Mahasiswa Profesi Apoteker Unikal Edukasi \'Silent Killer\' di Rutan Pekalongan, Cegah Penyakit Degeneratif
MALEKHA, EDUKASI - Perwakilan mahasiswa Unikal memberikan edukasi kepada warga binaan rutan.
0 Komentar

“Kesehatan napi dan tahanan itu sangat penting dan perlu ditopang bersama-sama, tidak hanya oleh pihak rutan. Kami perlu peran serta dari stakeholder terkait. Alhamdulillah, sekarang bisa berkolaborasi dengan Unikal untuk menjaga kesehatan mereka,” ujar Anang.

Dalam kegiatan PkM tersebut, Rutan Pekalongan mengikutsertakan sekitar 30 warga binaan dari berbagai kalangan usia, termasuk kelompok lansia (usia degeneratif) dan warga binaan perempuan. Pemilihan peserta ini disesuaikan dengan tema penyuluhan Unikal yang menyasar penyakit jangka panjang.

Anang menjelaskan, kondisi kesehatan warga binaan secara umum relatif baik dan sejauh ini hanya mengeluhkan penyakit ringan seperti flu, demam, atau gatal-gatal yang bisa ditangani secara internal. Rutan Pekalongan sendiri sudah memiliki poliklinik berizin dari Dinas Kesehatan yang beroperasi setiap hari, serta rutin menggelar pemeriksaan berkala satu bulan sekali bersama Puskesmas Kusuma Bangsa.

Baca Juga:Proyek KPBU APJ Pintar Rp143 M di Batang Resmi Dilelang, Target 8.100 TitikBupati Batang Ajak Wisata Lokal Saat Libur Sekolah, Dorong Ekonomi Masyarakat

Meski layanan kesehatan internal sudah berjalan, Anang berharap program PkM dari Unikal ini tidak bersifat insidental, melainkan bisa menjadi agenda reguler setiap tiga atau enam bulan sekali.

“Di sini napinya silih berganti, keluar masuk. Harapannya kegiatan ini kontinu agar penanganan kesehatan terus berjalan baik. Target kami, selama menjalani masa pidana mereka tetap sehat, dan saat pulang ke keluarga nanti dalam keadaan sehat,” tambahnya.

Lebih lanjut, Anang juga membuka ruang bagi fakultas lain di Unikal, seperti Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi, untuk turut berkolaborasi. Langkah ini dinilai krusial mengingat tingkat residivisme (warga binaan yang mengulangi tindak pidana) di Rutan Pekalongan cukup tinggi, yakni menyentuh angka 30 persen akibat faktor impitan ekonomi. Apalagi, sekitar 95 persen warga binaan merupakan warga asli Kota dan Kabupaten Pekalongan.

“Mayoritas latar belakangnya adalah kasus ekonomi dari kalangan bawah. Mereka sulit keluar dari lingkaran itu karena tidak punya keterampilan. Kami butuh peran institusi pendidikan seperti Unikal untuk memberikan bekal keterampilan dan pemikiran yang baik. Begitu bebas, mereka bisa berdaya dan minimal tidak mengulangi tindak pidananya lagi,” harap Anang. (mal)

0 Komentar