BPBD Batang: Kemarau Godzilla Mulai Terasa, Juli-Agustus Diprediksi Tanpa Hujan

BPBD Batang: Kemarau Godzilla Mulai Terasa, Juli-Agustus Diprediksi Tanpa Hujan
DOK. ISTIMEWA, LEBIH WASPADA - Kepala Pelaksana Harian BPBD Batang, Wawan Nurdiansyah, mengingatkan dampak dari fenomena kemarau Godzilla yang membuat cuaca lebih panas, bahkan tanpa hujan.
0 Komentar

Ia menjelaskan bahwa kemarau tahun ini akan berdampak pada menurunnya curah hujan di awal tahun 2027 secara drastis jika dibandingkan dengan awal tahun 2026. Kondisi ini berakibat pada menipisnya cadangan air tanah ketika memasuki musim kemarau 2027, sehingga potensi kekeringan semakin besar.

“Maka BPBD mengingatkan masyarakat Batang untuk lebih siap dan waspada menghadapi kemarau Godzilla tahun ini serta dampak siklusnya di tahun depan yang diprediksi lebih parah,” tandasnya.

Kesiapsiagaan Pasokan Air Bersih

Di sisi lain, BPBD Kabupaten Batang telah menyiapkan langkah-langkah siaga menghadapi potensi kekeringan di wilayahnya. Beruntungnya, hingga saat ini belum ada satu pun laporan yang masuk mengenai kelangkaan air bersih akibat kekeringan. Wawan berharap kondisi tahun ini dapat serupa dengan tahun lalu, di mana Kabupaten Batang terbebas dari status darurat air bersih.

Baca Juga:Hasil Observasi Dokter Jiwa: Pelaku Penusukan Maut di Tratebang Alami Gangguan JiwaPolres Pekalongan Gelar Apel Kesiapsiagaan Karhutla, Perkuat Sinergi Cegah Kebakaran

“Di 15 Kecamatan ini masih relatif aman karena kita melihat ya wilayah kita terutama di dataran tinggi di selatan kan hutannya masih lumayan terjaga. Artinya tidak ada kegiatan ekstrem sampai penggundulan hutan, sehingga itu masih mungkin bisa menahan resapan air,” tegasnya.

Meski demikian, BPBD Batang bersama pemangku kepentingan terkait tetap menyiagakan bantuan dropping air bersih apabila sewaktu-waktu ada laporan kekeringan dari wilayah-wilayah yang membutuhkan.

Wawan juga mengingatkan soal aktivitas pertanian di wilayah dataran tinggi agar tidak memperluas areal pertanian dengan mengorbankan kawasan hutan, terutama untuk komoditas seperti kentang.

Hal ini penting karena selain mengurangi luas kawasan hutan, komoditas kentang tidak memiliki kemampuan mengikat air sehingga juga meningkatkan risiko longsor. Jika area serapan air di wilayah hulu berkurang, maka dampaknya akan terasa hingga ke wilayah lain di bawahnya.

“Kalau area serapan di hulu berkurang, maka dampaknya sampai ke wilayah lain,” terang Wawan.

Peringatan ini terutama berdasarkan pengalaman pada kemarau tahun 2024, di mana sebagian wilayah di Kabupaten Batang mengalami kekeringan. Saat itu, BPBD melakukan dropping air bersih ke sejumlah kecamatan, seperti Limpung, Batang, Wonotunggal, Bandar, Kandeman, Warungasem, Subah, dan Pecalunga.

“Meski kita tidak mengharapkan kekeringan 2024 berulang, tetapi kesiapsiagaan tetap dilakukan. BPBD bersama Perumda Sendang Kamulyan setiap tahun selalu siaga air bersih untuk mengantisipasi kekeringan saat kemarau,” pungkasnya. (sef)

0 Komentar