Ia menjelaskan bahwa mediasi dilakukan untuk menyelesaikan persoalan pelaksanaan turnamen secara komprehensif agar tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan yang dapat merusak citra sepak bola di tingkat desa.
Sementara itu, Kepala Desa Sudipayung, Yusuf, mengapresiasi seluruh pihak yang memilih menyelesaikan persoalan secara bersama-sama melalui jalur musyawarah. Menurutnya, perbedaan pendapat maupun pernyataan yang sempat muncul di tengah situasi panas harus dijadikan pelajaran berharga bagi semua pihak.
“Solusi ke depan adalah memperbaiki kembali aturan dan tata kelola penyelenggaraan. Semua harus dibenahi agar pelaksanaan kompetisi berikutnya berjalan lebih baik,” katanya.
Baca Juga:Tiga Kotak Amal Masjid An Nur Kaliwungu Permai Digasak Maling, Aksi Pelaku Terekam CCTVHasil Observasi Dokter Jiwa: Pelaku Penusukan Maut di Tratebang Alami Gangguan Jiwa
Ia menilai insiden tersebut menjadi evaluasi penting dalam pembinaan sepak bola tingkat desa. Yusuf berharap kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang dan seluruh pihak dapat lebih mengedepankan sportivitas.
“Pembinaan sepak bola harus dibangun dari bawah agar kembali lahir pemain-pemain yang mampu berprestasi hingga tingkat nasional bahkan internasional,” pungkasnya.
Dengan diselesaikannya polemik ini melalui mediasi, diharapkan turnamen PSS Sudipayung Cup II dapat terus berlanjut sebagai ajang pembinaan bakat sepak bola di Kabupaten Kendal tanpa lagi diwarnai insiden kekerasan. (fur)
