Gandeng BI Tegal dan MES, Festival Bubur Suro Krapyak Bertransformasi Jadi Penggerak Ekonomi Syariah

Festival Bubur Suro
Wakil Wali Kota Pekalongan, Balgis Diab bersama Ketua MES Kota Pekalongan, M. Andy Arslan Djunaid dan Deputi Kepala Perwakilan BI Tegal, Seno Indarso dalam pembukaan Festival Bubur Suro 2026.
0 Komentar

Deputi Kepala Perwakilan BI Tegal, Seno Indarso, menjelaskan bahwa kolaborasi Syafaat dengan Festival Bubur Suro menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di wilayah eks Keresidenan Pekalongan.

Mengusung tema “Sinergi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Masyarakat Regional Berkelanjutan melalui MES dan Transformasi Digital”, festival tidak hanya difokuskan pada pelestarian budaya, tetapi juga diarahkan sebagai media pemberdayaan masyarakat melalui penguatan sektor UMKM.

“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan ekosistem ekonomi syariah, mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembelanjaan UMKM, sekaligus melestarikan kebudayaan Kota Pekalongan,” kata Seno.

Baca Juga:'402 Rumah Sakit Angker Korea' Gelar Gala Premiere, Horornya Bikin Penonton Lupa BernapasSaksikan Penandatanganan PKB Jasa Raharja dan Serikat Pekerja, Menaker Titip Tiga Agenda Strategis

Ia menambahkan, Pekalongan memiliki modal besar untuk berkembang sebagai salah satu pusat ekonomi syariah di Indonesia. Hal tersebut didukung oleh budaya Islam yang kuat, pertumbuhan ekonomi kreatif, serta berbagai potensi lokal yang terus berkembang.

BI juga mendorong Pekalongan menjadi kota wakaf sekaligus destinasi wisata ramah muslim melalui penguatan fasilitas ibadah, penyediaan kuliner halal, musala, hingga berbagai sarana pendukung wisata lainnya.

Ketua Panitia Syafaat Festival Bubur Suro 2026, Muhammad Iskandar, mengatakan penyelenggaraan tahun ini tidak hanya bertujuan melestarikan kuliner tradisional Bubur Suro, tetapi juga meningkatkan kapasitas pelaku UMKM dalam mengembangkan usahanya.

“Harapannya, pelaku UMKM tidak hanya hebat berdagang, tetapi juga semakin cerdas mengelola keuangan dan usahanya,” katanya.

Berbagai kegiatan turut digelar untuk memeriahkan festival, mulai dari bazar UMKM, lomba kuliner berbahan tepung beras, lomba mewarnai bertema Cinta, Bangga, Paham Rupiah, lomba hadroh ibu-ibu, senam jantung sehat, donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga lomba burung berkicau.

Pada malam pembukaan juga dilaksanakan peluncuran ‘Scan Wakaf’ serta penyerahan buku sebagai bagian dari edukasi wakaf produktif kepada masyarakat.

Rangkaian Festival Bubur Suro akan mencapai puncaknya pada Minggu melalui kegiatan Gemar Bubur Suro, yaitu pembagian bubur kepada masyarakat yang dimasak menggunakan beras hasil Program Wakaf Produktif dari lahan X Rock Pekalongan.

Baca Juga:Transformasi Digital Layanan Pensiun dan Tantangan Membangun Layanan Publik yang InklusifBPJS Ketenagakerjaan Pekalongan Perkuat Sinergi CoB Jasa Raharja bersama Mitra PLKK

Mengangkat tema “Krupo, Roso lan Dungo”, Festival Bubur Suro 2026 ingin menegaskan bahwa tradisi lokal tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Melalui perpaduan budaya, digitalisasi transaksi, literasi keuangan, serta penguatan UMKM, festival ini diharapkan semakin memperkokoh posisi Pekalongan sebagai salah satu daerah yang berkembang dalam penguatan ekonomi syariah di Indonesia.(nul)

0 Komentar