Semarang, RADARPEKALONGAN.ID — Program Studi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Semarang (USM) menggelar lokakarya (workshop) bertajuk “Computational Urban Economics for Digital Twin Cities”.
Agenda akademik yang dilangsungkan secara bauran (hybrid) di Oak Tree Emerald Semarang pada Senin (13/7/2026) ini bertujuan untuk membekali para perencana muda dalam menghadapi disrupsi teknologi di sektor penataan ruang.
Acara yang diikuti oleh jajaran dosen, mahasiswa, hingga ikatan alumni PWK USM ini menghadirkan pakar perencanaan wilayah dari Universitas Diponegoro (Undip), Dr. Sariffuddin, S.T., M.T., selaku pembicara utama.
Baca Juga:Libatkan Orangtua, MPLS Ramah di SMPN 1 Sragi Pekalongan Diikuti Ratusan Siswa Tanpa PerpeloncoanKasus Koperasi BMJ Kendal Naik ke Penyidikan, SPDP Resmi Dikirimkan ke Kejati Jateng
Dalam pemaparannya, Sariffuddin menjelaskan bahwa pendekatan konvensional dalam memetakan wilayah saat ini sudah tidak lagi memadai. Pemanfaatan sumber data terbuka (open source) yang dikolaborasikan dengan model ekonometrika spasial serta Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi pilar utama dalam membangun digital twin city.
Teknologi digital twin city sendiri merupakan klaster replika atau representasi digital dari sebuah kota nyata. Sistem ini berfungsi untuk menyimulasikan serta menguji berbagai skenario kebijakan tata ruang sebelum diaplikasikan langsung di lapangan.
“Melalui pendekatan ini, perencanaan tidak lagi hanya bersifat prediktif, tetapi juga mampu memberikan dasar pengambilan keputusan yang lebih terukur, efisien, dan adaptif,” kata Sariffuddin, Senin.
Sementara itu, Ketua Prodi S1 PWK USM, Dr. Agus Sarwo Edy Sudrajat, S.T., M.T., menyampaikan bahwa pelaksanaan workshop ini menjadi langkah taktis institusi dalam merespons cepatnya intervensi teknologi digital di dunia kerja perencana.
Ia berharap materi tingkat lanjut (advanced) mengenai komputasi ekonomi perkotaan ini dapat segera diintegrasikan ke dalam pembaruan kurikulum mengajar dosen serta memicu mahasiswa untuk terus memperbarui kompetensi mereka.
“Pemahaman ekonometrika spasial dan AI bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan wajib bagi perencana wilayah dan kota di era modern demi melahirkan solusi penataan ruang yang cerdas dan berkelanjutan,” ujar Agus memungkasi arahannya.
Melalui integrasi teknologi simulasi digital ini, USM berkomitmen mencetak lulusan sektor tata ruang yang memiliki daya saing tinggi, mampu meminimalkan risiko kegagalan pembangunan fisik kota, serta dapat menyusun masterplan daerah yang lebih ramah lingkungan. (Anang)
